01 December, 2020

Cerita Kehamilan: Trimester Ketiga & Persalinan

Trimester Ketiga

Alhamdulillah akhirnya masuk ke trimester ketiga kehamilan. Sejak usia kandungan 26 minggu hingga saat ini kepala janin sudah berada di bawah, saya tinggal maintain saja agar posisi bayi tetap baik seperti ini. hasil USG semua normal dan BB janin saat kontrol kemarin sudah mencapai 1,6 kg. Karena rencana saya untuk melahirkan pervaginam, dokter Jo menyarankan untuk mengurangi karbo dan gula, agar bayinya nggak kebesaran yang dapat menyebabkan susah lahir nantinya. Dokter juga bilang 3,2 kg cukup lah, jangan lebih dari itu. 3,5 kg pun sudah termasuk kebesaran. Jadi saya harus mulai memperketat jajanan manis-manis. Hmmm berat. Masuk kandungan 7 bulan stretch mark pun mulai muncul. Kalau di kasus saya, dia muncul di area pinggang dan perut bawah, samar-samar dan nggak banyak sih, beberapa garis aja tapi ya tetap kelihatan. Padahal dari awal kehamilan sudah rutin pakai Mustela dan Bio Oil, tapi di saya nggak terlalu ngaruh ternyata hahaha. Paling ngaruhnya ke efek tidak gatal. Perut saya nggak terasa gatal, tapi tiba-tiba muncul stretch mark aja gituh. Awalnya sih kaget "kok muncul sih.." tapi ya udah saya nggak terlalu pikirin lagi, toh Simas fine-fine aja liat stretch mark saya hahaha. 

Pada minggu ke 32 saya ngerasa makin ringkih deh. Kalau lagi berjalan jalan perut bawah saya ngilu, sakit banget rasanya, dibarengi rasa sakit di pangkal paha. Pokoknya kalo lagi dibawa jalan tuh sakit banget. Saya coba browsing-browsing ketemu artikel tentang Symphysis Pubis Diastasis (SPD). Saya udah self diagnosed aja kalau saya tuh sakit itu, karena gejalanya bener-bener mirip sama yang saya rasain (please jangan ditiru hahaha). Tapi karena penasaran juga akhirnya saya chat dokter Jo, dan menceritakan keluhan saya ini. Dokter Jo bilangnya sih sakit ini terjadi karena ketekan sama bayinya, nggak membahayakan si bayi tapi memang membuat ibu nggak nyaman. Terus saya disarankan pakai maternity belt untuk mengurangi rasa sakit tersebut. Saya nurut aja apa kata dokter Jo, tapi memang bener sih, setelah saya pakai maternity belt jadi nggak terlalu sakit lagi perut dan pangkal paha ketika berjalan, mungkin karena si perut ini udah ditopang kali ya sama beltnya, jadi nggak terlalu berat lagi. Masuk usia 36 minggu saya nggak ada keluhan sama sekali. Saya berharap banget dapat melahirkan di usia kandungan ke 37 atau 38. Soalnya jatah cuti melahirkan saya dikit, kalau saya lahir di sebelum HPL kan saya jadi bisa lebih berlama-lama dengan si bayi. Dari awal hamil pun saya selalu ajak ngomong janin di kandungan saya untuk melahirkan pada usia 38 minggu saja. Dan ternyata omongan saya didengar, baik oleh Allah maupun oleh bayi saya..

By the way, selama hamil saya selalu kontrol di dokter Jo, tepatnya di RS EMC Sentul. Kenapa? Karena memang dekat dari rumah saya hehehehe. Sepengetahuan saya, dokter Jo praktek di 3 rumah sakit. RSUD Cikaret, RS Sentra Medika Cibinong, dan RS EMC Sentul. Saya pilih di RS EMC Sentul karena rumah sakitnya relatif sepi dibandingkan dua rumah sakit lainnya itu, apalagi di masa pandemi gini pengunjung RS juga sangat dibatasi, untuk saya pribadi jadi lebih nyaman.

Tentang Persalinan

Tanggal 1 November sore saya mengeluhkan kontraksi palsu yang lebih sering dari biasanya ke adik. Saat itu saya sudah sadar kalau bisa saja sewaktu-waktu saya melahirkan, karena usia kandungan sudah memasuki 38 minggu 3 hari. Malamnya pukul 20.30 ketika saya sedang berbincang dengan ibu dan adik di ruang TV, tiba-tiba saya ngerasa kayak ada balon meletus di dalam tubuh bagian bawah saya, setelah itu air bening keluar cukup deras seperti pipis tanpa bisa ditahan. Saya langsung berpikir kalau ini adalah air ketuban, tapi nggak tau kenapa kok saya belum merasakan mules sama sekali. Saya buru-buru chat dokter Jo, dan beliau meminta saya untuk ke rumah sakit malam itu. Untungnya saya udah siapin hospital bag jadi nggak perlu bolak-balik rapihin baju lagi. Sesampainya di RS saya cek CTG untuk melihat detak jantung bayi, alhamdulillah detak jantungnya masih bagus dan dalam stase pembukaan 1. Karena sedang pandemi, sebelum masuk ke ruang observasi, saya harus rontgen thorax dulu untuk memastikan kalau saya tidak terinfeksi virus covid. 

Saat saya masuk ke ruang observasi, jam menunjukkan pukul 01.00 pagi, kontraksi yang saya rasakan sudah mulai teratur, namun karena saya mengalami Ketuban Pecah Dini (KPD), saya tidak diperbolehkan turun dari kasur dan terlalu sering cek pembukaan. Disini saya masih berada di ruang observasi. Semalaman saya hampir nggak bisa tidur karena ngerasain kontraksi, rasanya kayak lagi menstruasi, tapi lebih sakit aja. Yaa.. nggak sesakit itu, tapi bikin nggak nyaman, itu yang saya rasakan. Ketika pukul 7 pagi rasa mulas menstruasi mulai berubah menjadi rasa kepingin pup. Semakin lama intensitasnya pun semakin sering. Lalu saya dipindah ke ruang bersalin, tapi baru dipindahin aja, belum ada tindakan apa-apa. Akhirnya saya mulai nggak kuat dan minta tolong bidan untuk cek pembukaan, jam menunjukkan pukul 8.30, ternyata sudah pembukaan 7 ke 8. Aduh mashaAllah ini yang nikmat banget, susaaaah banget untuk nahan ngeden, karena rasanya bener-bener kayak kebelet pup. Tapi para bidan yang bantu saya baik dan sabar-sabar banget, dari jam 7 saya pindah ke ruang bersalin sampai pembukaan lengkap mereka selalu nungguin, pijetin pinggul saya, mashaAllah.. Simas kemana? Di samping saya kok, berusaha bantu pijet tapi lebih enak pijetan bidan, jadi saya minta tolong bidan aja yang mijetin hahahaha. Drama selanjutnya adalah ketika saya masih harus nunggu dokter Jo buat dateng ke RS. Dokter Jo masih di luar kota dan pesawatnya delayed. Pusing banget nggak siiih huhuhu sampe sempet bilang mau lahiran sekarang aja nggak usah tunggu dokter Jo, sama bu bidan juga nggak apa-apa, tapi engga boleh hehehe. Long story short, Alhamdulillah akhirnya anak saya lahir dengan selamat dan sehat. Saya langsung IMD while dokter ngejahit di bagian bawah sana. Sempet baca-baca katanya nggak berasa sakit saat dijahit ketika kita udah liat bayi kita selamat dan sehat. SIAPA BILANG HAAAAAAAAH??? Jujur saya tetap ngerasa sakit sih pas dijahit, padahal ketika dijahit itu saya lagi tatap-tatapan IMD sama anak saya huhu. Memang rasanya bahagiaaaa banget, tapi ya tetep aja berasa sakit pas dijahit. Segitu katanya dibius hadeuuuh huhuhu.

❤❤❤

Kesimpulannya.. Alhamdulillah persalinan berjalan lancar meskipun ada drama KPD (Ketuban Pecah Dini), tanpa ada bantuan induksi maupun vakum segitu udah alhamdulillah banget buat saya. Semoga kita bertemu lagi ya dok Jo di kehamilan-kehamilan saya yang selanjutnya 😂 Aamiin..

Photo Credit: @jonathanborba

13 September, 2020

One Peaceful Day at The End of 2017


2017.

These past few months has been relentless. It's a common my job will become very busy by the end of the year. It seems I have no time to even have a sip of coffee. I come home late everyday just to make sure everything is on the right tracks. But still, they didn't give me a sec to even catch a breath. Dealing with tight deadlines made me sick I think I'm overloaded. It's getting busier because I also preparing my wedding.

Everything fly so fast I barely believe it. Well, no one ever predicted this would run so fast and smooth, including myself. But I took it as a serendipity, it was a pleasant surprise. I strongly believe everything that happens in my life is the best gifts that God gave me. Though our plan is to get married by next year because me and Ardhy has some things need to take care of, but we guessed God has another beautiful plan. We finally married before the end of the year. Some people asked, "how do you feel?", it's all mixed up, you know. I'm happy, and a bit confused. It's kind of jetlag. I'm happy because I finally got married as what I planned, I'm a bit confused because I still can't believe, everything is made easier by God, and this clumsy feeling everytime I remember that I'm holding a new title as a wife.

For me, he's a patient one. For example, when he bought the rings. He insisted to find the store on weekdays because he has more free time on it. I feel so sorry for him I can't accompany him because I can't leave my works. I do have a custom design for us, but due to the time that is quite close to our schedule, no stores are willing to make my custom ring because of the short deadline we asked. Ardhy even had to go to Cikini to check whether they could make my custom ring. I was almost desperate and told him to just buy regular rings. I'm okay, we can buy it another time, I said. He refused. He's still trying to find another store and finally ended up to a store located in Melawai that willing to undertake our request, or, my request. Since I can't accompany him I just leave a ring I have for him to take it as my finger size, eventhough at the end of the day he warned me, "we already bought it, please don't complain if it doesn't fit to you finger. It's what you want", we laughed. Thank you so much for your effort, Ardhy.

We were also busy with buying stuffs for our wedding such as souvenirs, clothing materials, and bla bla. Furthermore, we need to back and forth to Sanggar Liza to check the wedding dress, family's attires, and etc, talking about our wedding planning with family and eeeverything related to our wedding needs. There are always some things we must do every weekend which means exhausting moments. But then again, Ardhy always accompany me, so those exhausting feelings reduced by his presence beside me. A little problem came when my parents wanting more guest lists. Oh really? At first, me and Ardhy wanted a simple wedding party and planned to not invite many guests. Neverthless, the wedding itself is just a synonym of parent's stuff, right? Considering my big family is literally big, not to mention relatives, parents's colleagues and bla bla. Everything seems so far enough from what I planned, from what I thought, especially about the guest lists *sigh*.

To celebrate the end of this pain (haha! No I'm not that allergic to preparing my wedding things, my mom, sister, and aunt help me anyway, they help me much. But still I can't deny preparing this and that really need extra energy and mood). Me and Ardhy went to zoo for jogging - yeah I know another too much words, it's not a celebration, Ardhy had to asked me zillionth time to do jogging but I always refused him with some reasons like I'm too tired, I want to wake up late in weekend because hey, for me weekend means lazy day. I need my relax time, dude. But we finally jogged. No, we walked. We just strolled around since I haven't jogged for a decade, I lost my breath after run for.. 5 minutes? LOL. Ardhy was finally relented, he stopped from his jog and walk with me. I've insisted him to leave me alone and let him to continue his jogging, I told him I'm okay we could meet in a meeting point, no problem. But Ardhy will be Ardhy. The stubborn one. He insisted that I would get lost in zoo if I walk alone, "it's okay at least we get sweat, right?" he comforted me. The morning air in zoo was very fresh, chirping sound by birds enliven the morning that gave me comfortable feeling. Can I stop the time for a second? Because I feel happiness inside and out.
 

Photo Credit: @ohtilly

18 August, 2020

Cerita Kehamilan: Pengecekan Retina Mata

 

Setelah dapat advise untuk cek mata, akhirnya Sabtu pagi saya dan Simas meluncur ke KMN Lebak Bulus (Klinik Mata Nusantara). Saya udah sempat googling sebelumnya, kira-kira apa aja sih yang akan dilakukan untuk pengecekan retina, tapi ternyata beda rumah sakit ada beberapa perbedaan metode pengecekan.

Saya sudah daftar by phone seminggu sebelumnya soalnya takut antri. Sampai sana saya registrasi ulang lalu dilakukan lah pengecekan awal. Yang pertama di cek itu minus mata, pakai alat yang kayak di optik-optik itu lho. Cek kedua saya dibawa ke sebuah ruangan lalu dilakukan tes baca, tapi sebelum tes baca mata saya ditetesin cairan yang sedikit perih, katanya sih cairan itu untuk memperbesar pupil, dan diwanti-wanti penglihatan akan menjadi silau selama 3 sampai 4 jam kedepan. Pengecekan ketiga adalah foto saraf mata. Jadi nanti mata kita dihadapkan ke sebuah alat, kita disuruh lihat ke titik hijau gitu nanti kayak ada flash lewat. Silau bener pemirsa, saya sampe mengerjap-ngerjap setelah sesi foto itu hahaha. Nah setelah selesai semua pengecekan baru deh saya antri buat ketemu dengan dokter spesialis retinanya, Saat menunggu antrian mata saya kembali ditetesi cairan yang membuat pupil mata membesar itu. Total 2x saya ditetesin cairan tersebut, tapi untuk yang terakhir ini rasanya lebih perih dan pahit di mulut. Setelah masuk ke ruangan, saya disuruh duduk di alat apa itu engga tau namanya, mirip bangku yang di dokter gigi, terus lampu semua dimatikan, dokter pakai ikat kepala yang ada senternya gitu terus pegang semacam loop kecil, mata kita di sorot pakai senter terus disuruh lirik kanan kiri atas bawah. Udah gitu aja. Selesai diperiksa dokter kasih kesimpulan kalau retina saya bagus, tidak ada yang bolong atau robek, memang tentunya retina saya tipis karena orang yang minusnya tinggi pasti retinanya tipis, tapi beliau bilang retina saya OK jika ingin melakukan persalinan pervaginam. Fyuh lega. Meskipun sebenarnya dengan metode apapun saya melahirkan nggak ada masalah sih, yang penting saya dan bayi di kandungan saya sehat nantinya. Tapi karena memang obgyn saya tipe yang pro normal banget, jadi ya udah saya ikutin aja hahaha. Sampai rumah saya chat Dokter Jo dengan melampirkan hasil pengecekan mata saya, beliau bilang berarti sudah final kalau saya bisa melahirkan pervaginam, sekarang yang harus saya lakukan mengurangi karbo dan gula agar bayinya tidak kegedean nantinya. 

Untuk yang tanya berapa biaya pemeriksaan retina di KMN, siapkan saja 1 juta Rupiah, itu sudah mencakup segala pengecekan dan pemeriksaan ke dokter spesialis retinanya. Oh iya satu lagi, saya nggak dikasih resep apapun ya, hanya pemeriksaan saja.

14 August, 2020

Cerita Kehamilan: Trimester Kedua


Alhamdulillah sudah masuk ke trimester kedua. Setelah segala tragedi mual dan muntah setiap mandi dan sikat gigi, akhirnya hal-hal itu sudah mulai mereda di trimester ini. Masih suka mual sih kalau cium aroma-aroma gitu, tapi sudah jauh lebih baik dibandingkan pada trimester pertama. Pada minggu-minggu awal trimester kedua ini perut saya masih belum terlihat besar, cuma buncit aja gitu kayak orang belum pup seminggu. Sempet bingung sih kenapa ya kok belum keliatan besar, tapi pas tanya dokter katanya wajar dan nggak perlu dipikirkan, yang penting perkembangan janinnya normal dan sehat. Alhamdulillah deh saya yakin aja sama pak dokter, beliau yang lebih tau kan.. Hehehehe. Saya menjalani trimester ini di bulan puasa, saya pun akhirnya izin ke dokter apakah boleh melaksanakan puasa ramadan saat hamil gini, menurut dokter kalau dilihat dari riwayat kehamilan dan kondisi janin, saya diperbolehkan puasa. Tapi kalau ada keluar flek ya baru nggak boleh puasa. Alhamdulillah dibolehin puasa, bahagia hatiku nggak bingung bayar puasa nantinya hahaha.

Oh iya, by the way, dokter Jo ini bukan tipe dokter yang ngelarang-ngelarang. Apa aja rasanya dibolehin sama beliau. Setiap saya tanya ini itu yang banyak orang bilang nggak boleh dilakukan oleh ibu hamil, tapi kalau sama beliau diperbolehkan. Sempat saya tanya, saya boleh nyetir kendaraan nggak dok? Karena saya kalau ke kantor memang bawa kendaraan, agak repot juga kalau harus naik kendaraan umum atau minta antar-jemput, karena saya nggak punya supir dan nggak mungkin minta anter suami karena kantor kami beda arah banget. Kata dokter boleh-boleh aja, makan ini-itu boleh, cuma satu yang dilarang: Nggak boleh makan makanan mentah. Yuhuuu Saya bebas makan steak...... Meskipun harus well done. Gapapa deh 💃 Di bulan keempat kehamilan ini saya sudah mulai bisa merasakan tendangan bayi saya. Awalnya saya nggak paham kalau itu tendangan bayinya, saya pikir perut saya lagi keroncongan, tapi ternyata kata dokter "ya itu tendangan bayi kamu Sha!".

Ketenangan ini ternyata sempat tidak bertahan lama. Pada suatu Jumat ketika lagi di kantor saya ngerasa keram di bawah perut, rasanya kayak lagi keram menstruasi, sakit deh. Saya bingung kenapa ya kok sakit, biasanya nggak begini. Saat itu saya pikir kayaknya saya terlalu banyak duduk jadi perut keram. Tapi di perjalanan pulang perut saya makin sakit. Sampai rumah saya langsung bersih-bersih secepatnya dan rebahan di kasur sambil meninggikan posisi kaki. Saat itu mau jalan aja rasanya nggak kuat. Rasa keram nggak sepenuhnya hilang sampai hari selanjutnya. Di hari Minggu nenek saya meninggal. Saya shock dan sedih banget karena saya dekat sekali dengan nenek. Sudahlah perut saya masih terasa keram (yang saya baru tahu itu ternyata adalah kontraksi) ditambah berita duka ini membuat saya kaget dan mungkin bikin janin di kandungan saya jadi stress. Hari Seninnya jam 10 pagi saya masih ingat sekali saat pipis saya ada darah di dudukan toilet. Saat itu pas banget saya ambil cuti dan menginap di rumah orang tua. Lagi-lagi saya kaget dong lihat darah segar, saya panik dan memanggil ibu saya, karena Simas sudah berangkat ke kantor. Sepengetahuan saya kalau flek orang hamil itu ya bentuknya seperti flek, berwarna coklat. Tapi yang saya hadapi saat itu adalah darah segar seperti orang menstruasi hari kedua. Dan volumenya cukup banyak. Rasanya saya mau nangis saat itu juga tapi malu sama ayah ibu hiks.. Pas sekali hari itu dokter Jo ada jadwal praktek jadi saya langsung meluncur ke RS diantar ayah dan ibu, juga adik perempuan saya. Ibu saya terlihat khawatir tapi beliau diam saja. Sepanjang perjalanan saya hanya berdoa dan zikir.

Setelah masuk ke dalam ruangan, dokter Jo bingung. Mungkin beliau masih ingat baru 2 minggu lalu saya kontrol bulanan. Serta merta beliau tanya, "ada apa nih kok udah balik lagi?" Saya ceritain deh kronologinya. Lalu saya kembali di cek USG perut sama beliau. Alhamdulillah janinnya baik-baik aja, saat itu kandungan saya masuk 18 minggu 3 hari. Di cek keseluruhan semua aman dan janinnya masih aktif banget. Dokter bilang saya flek karena stress, jadi harus reduce stress dan kalau jalan jangan cepet-cepet! Hahaha. Saya emang kalau jalan tuh bawaannya cepet mulu jadi kayak terlihat selalu buru-buru, padahal sih nggak juga, emang udah dari sananya begini. Seneng banget denger penjelasan dari dokter Jo, akhirnya saya pulang dibekelin obat penguat 8 butir, disuruh minum 3 butir aja, satu hari sekali dan disuruh bedrest selama 3 hari. Sisanya disimpan kalau-kalau nanti ada flek lagi muncul. Amit-amit jangan sampe ah kejadian lagi. Saya juga akhirnya dikasih kartu nama beliau, katanya "Nih kamu whatsapp saya aja kalau ada apa-apa ya, jadi nggak panik langsung lari ke rumah sakit." Hue.. Dokter ngomongnya sambil ketawa, saya jadi malu. Sebelumnya saya memang nggak pernah tanya no hp dokter Jo sih, kirain nggak boleh, ternyata malah ditawarin, ya alhamdulillah banget kalau begitu.

Masuk usia kandungan 25 minggu akhirnya perut saya terlihat lebih besar, udah nggak buncit doang kayak orang belum pup 1 minggu. Pokoknya udah kelihatan kayak orang hamil beneran deh. Badan makin berasa pegal-pegal, dan rasanya saya mulai nggak kuat nyetir kendaraan sendiri, karena kalau kelamaan duduk pas mau turun mobil rasanya tuh nikmat bener sakitnya. Masuk 26 minggu saya kembali kontrol kandungan, dan karena minus saya tinggi (plus ada silinder juga) dokter Jo minta saya ke dokter mata untuk cek apakah retina saya OK untuk dilakukan persalinan normal. Tapi saya dirujuknya bukan ke dokter spesialis mata, melainkan ke spesialis retina. Akhirnya saya cek mata ke Klinik Mata Nusantara (KMN) di daerah Lebak Bulus. Cerita lebih lanjut ada di post selanjutnya ya!

Photo Credit:Unsplash

29 July, 2020

Cerita Kehamilan: Trimester Pertama


Setelah dua minggu sebelumnya saya cek ke Obgyn dan menghasilkan kesimpulan kalau saya hamil, dua minggu selanjutnya saya disuruh kontrol kembali untuk cek perkembangan janin. Akhirnya di Sabtu pagi saya sudah duduk manis dengan Simas di ruang tunggu RS untuk konsultasi dengan dokter Jo. Hasil kontrol hari itu menunjukkan kalau janin saya berkembang dengan semestinya, alhamdulillah. Umur janin saat itu 7 minggu 3 hari. Rasanya lega banget dan masih rada nggak nyangka. Pulang dari kontrol saya dibekelin obat penguat dan vitamin lagi dari dokter.

Saya nggak tahu ya apakah ini sugesti atau memang beneran karena hormon kehamilan, kian hari badan saya rasanya makin lemah banget. Saya jadi sensitif banget dengan segala aroma. Mau itu aroma yang wangi sampai busuk sekalipun pasti membuat saya mual dan tidak jarang muntah. Saya nggak bisa cium aroma nasi, minyak goreng yang sedang dimasak, bau dapur, bahkan saya menghindari banget aroma parfum dan tubuh Simas. Padahal biasanya saya suka banget sama aroma parfumnya. Sikat gigi pun jadi challenge tersendiri buat saya. Setiap sikat gigi selalu muntah. Saya juga nggak bisa cium aroma sabun, akhirnya saya ganti sabun yang biasa saya pakai dengan sabun dettol batang, karena tidak terlalu berbau. Pokoknya sekarang apa yang saya biasanya suka jadi bencyi bencyi bencyi deh. Selama 3 minggu awal, setiap pulang kerja saya tepar nggak kuat ngapa-ngapain. Sampe rumah cuma kuat mandi, solat lalu rebahan di kasur. Cuci baju saya alihkan ke tukang laundry, menyapu dan pel sekedarnya aja. Dan berhari-hari Simas cuma saya kasih sarapan ala kadarnya, kalau malam dia cari makanan sendiri, karena saya nggak sanggup masak. Sungguh kasian suami saya jadi nggak terurus. Tapi meskipun begitu alhamdulillah Simas pengertian banget, dia nggak pernah ngeluh justru bantu saya banget ngurusin rumah. Oh iya, belum lagi saya mual dan gampang banget muntah. Tepar parah banget pokoknya. Rasa mual dan muntah ini terus ada sampai trimester pertama berakhir, bahkan trimester kedua masih saya rasakan hanya saja tidak separah trimester pertama. Di trimester pertama ini hal yang saya rasakan selain mual dan muntah adalah.. Jompo. Banyak yang bilang badan khususnya pinggang akan mulai pegal-pegal ketika sudah memasuki trimester ketiga. Tapi dari awal saya sudah ngerasain ini dong. Ketauan banget ya saya jarang olahraga sebelumnya hahaha. Asli bener-bener jompo banget rasanya, angkat badan dari posisi rebahan aja tuh harus pelan, kalau nggak gitu bakalan sakiiiit badan saya.

Kalau bahas tentang ngidam, saya nggak khusus ngidam makanan apapun sih. Mungkin bayi yang saya kandung ini tahu dan pengertian kalau ibu dan bapaknya pekerja, jadi kalau mau nurutin ngidam akan ribet soalnya pulang kerja aja udah capek, apalagi kalau harus cari makanan ini itu hahaha. Eh tapi kalau dipikir-pikir yang sering kepengen makan ini itu tuh suami saya. Simas paling sering kepengen ifumie dan mie rebus tek-tek. Pernah suatu waktu selama beberapa hari terus-terusan kepingin ifumie atau mie rebus tek-tek. Terus nanti tiba-tiba kepengen kokumi. Ada-ada aja deh.
Karena masa trimester pertama saya cukup lemah dan "payah" akhirnya saya dan Simas ngungsi ke rumah orang tua saya, biar ada yang ngurusin gitu hehehe. Soalnya BB saya sempat turun karena nggak ada asupan sama sekali yang masuk ke tubuh, gimana mau masuk, makan nggak napsu, bahkan buka mata aja rasanya berat. Kalau di rumah orang tua saya tentunya saya dan Simas lebih terurus karena saya ngga perlu pusing nyiapin makanan karena ada yang bantu di rumah. Ditambah pandemi covid sedang merajalela, jadi orang tua saya pun menyuruh saya untuk tinggal sementara disana karena khawatir daerah yang saya tinggalin di daerah Bogor sudah masuk ke zona merah. Hasil saya tinggal di rumah orang tua akhirnya BB saya naik sedikit demi sedikit. Alhamdulillah.


Photo Credit: First Trimester

27 July, 2020

Cerita Kehamilan: Unexpected Surprise


Masuk bulan kedua saya dan Simas tinggal mandiri berdua saja di daerah yang agak jauh dari rumah orang tua kami. Kami nikmatin banget masa-masa ini, ibarat hidup dari nol lagi karena semua-muanya kami kerjakan sendiri, sudah nggak ada mbak yang bantuin di rumah. Mulai dari belanja bulanan berdua sampai jadwal bersih-bersih di rumah. Simas punya jadwal bersih-bersih rumah mulai dari menyapu, pel lantai, bersihin kaca di waktu weekend, sedangkan weekdays ya jadwalnya saya yang bersih-bersih rumah hahaha. Cuci baju dan masak juga saya lakoni sendiri, di minggu-minggu akhir bulan Februari saya baru mau mengajari Simas cara cuci baju di mesin cuci ketika ada sesuatu terjadi yang akhirnya belum kesampaian deh ngajarin cuci bajunya sampai sekarang.

Sesuatu itu terjadi ketika covid mulai masuk ke Indonesia, sudah dua hari saya demam tinggi di atas 38 derajat celcius, kepala pusing, badan lemas, dan mual, perut rasanya perih sekali. Saya sudah takut sesuatu terjadi dengan diri saya, Simas juga mulai cemas dan menyuruh saya untuk ke Rumah Sakit saja karena melihat saya sudah pucat dan tidak berdaya. Selama 2 hari demam itu akhirnya saya nyerah, pagi-pagi saya minta antar Simas ke klinik dekat rumah, Simas bersikeras untuk ambil cuti dan menemani saya, tapi saya pikir saya masih bisa sendiri, lebih baik dia tetap berangkat kerja hari itu. Sesampainya di klinik, sesuai protokol tempat pelayanan kesehatan terbaru semenjak covid melanda, saya ditanya macam-macam dulu sebelum masuk, seperti pernah kontak dengan orang yang terkena covid atau punya saudara yang terkena covid atau tidak. Untungnya tidak ada, jadi saya langsung dilayani seperti pasien biasa aja. Setelah masuk ke ruang dokter dan diperiksa, dokter sempat tanya apakah saya sedang hamil? Saya jawab tidak, tapi saya agak ragu juga, karena ketika dokter bertanya saya baru sadar juga kalau bulan lalu saya tidak menstruasi. Tapi saya diam saja saat itu. Akhirnya dokter bilang kalau asam lambung saya naik sehingga perut melilit dan timbul demam. Saat saya mau tebus obat di apotek, saya iseng beli test pack 2 pcs untuk saya cek di rumah.

Sampai rumah sudah agak siang, rasanya sangat tidak napsu makan tapi tetap saya paksakan karena saya harus minum obat agar rasa lemas dan mual ini reda. Tapi saya kembali teringat pertanyaan dokter sebelumnya dan melihat akan banyaknya obat yang harus saya minum. Akhirnya saya ambil test pack yang saya beli dan mencobanya. Diluar dugaan garis dua timbul dengan sangat jelas. Saya masih tidak percaya, saya pandangi test pack itu beberapa saat dengan ekspresi seperti ini: 😲. Iya saya mangap beberapa detik. Rasanya cukup campur aduk saat itu. Bingung, nggak percaya, dan senang. Tapi belum senang-senang amat karena saya pikir "Ah kalau mau cek test pack bagusnya kan pagi hari sebelum aktifitas ngapa-ngapain, kayaknya hasil yang ini kurang reliable deh soalnya kan siang-siang ceknya". Entah kenapa saya berpikiran denial seperti itu namun tetap ada rasa ragu untuk menenggak semua obat yang tadi di kasih dokter. Akhirnya saya tetap minum 1 obat pusing (karena udah nggak ketahan banget pusing kepalanya) dan buka aplikasi halodoc. Saya langsung log in untuk konsultasi online dengan Obgyn yang ada disana. Tidak lama kemudian saya sudah terhubung dengan seorang Obgyn dan saya kirim hasil foto test pack saya serta pertanyaan "Dok ini beneran positif?"
Dokter bilang itu positif dan memberikan selamat, lalu saya tanya obat-obatan yang dikasih oleh dokter klinik, dan menurut bu Obgyn jangan diteruskan karena obat tersebut tidak aman untuk ibu hamil. Saya juga dikasih referensi obat yang aman untuk janin. Ya saya sih tidak menyalahkan dokter klinik tersebut karena memang saya bilang saya nggak sedang hamil hehehe. Akhirnya saya hanya rebahan aja di kasur menikmati rasa pusing dan mual ini, saya nggak kuat bangun pemirsa.. Saya juga chat Simas untuk kabarin ini. Simas juga kayak belum percaya gitu dan suruh saya untuk test pack lagi besok di pagi hari. Wuah.. Saya deg-degan banget.

Paginya saya kembali test pack setelah solat subuh dan hasilnya masih garis 2 sangat jelas. Yap, saya mulai yakin kalau saya hamil. Tapi kami belum memberitahukan berita ini ke orang tua. Kami mau meyakinkan dulu ke dokter kandungan, kalau hasilnya memang positif hamil baru kami infokan ke orang tua. Saya coba cari-cari informasi dokter yang bagus di daerah Bogor, tempat tinggal kami sekarang dan mayoritas merekomendasikan ke dr. Johanes Taolin, Sp.OG. Dokter Jo ini pro normal banget dan menurut orang-orang sangat friendly dan udah terkenal banget di daerah sekitar Bogor. Awalnya saya masih pengen banget ke dokter cewek, tapi karena banyak orang-orang di sekitar saya yang komen positif tentang dokter Jo ini, jadi yaudah deh saya mau coba konsul ke beliau, siapa tau cocok. 
Dokter Jo ini setahu saya cuma praktek di RS. Sentra Medika dan RS. EMC Sentul, tapi belakangan saya baru tahu kalau beliau juga praktek di RSUD Cikaret. Sabtu pagi saya daftar via telepon ke rumah sakit, dan dokter ada mulai jam 10.00 - 12.00. Lanjut lagi sore tapi saya lupa jam berapa. Saya ambil yang jam 10 pagi. Setelah sampai RS wow antrian dokter Jo panjang banget, ternyata bener kata orang-orang, dokter Jo merupakan salah satu dokter favorit orang Bogor hahahaha. Setelah nunggu sekitar 45 menit (iya lama banget) akhirnya saya masuk ke ruangan, saya cerita kalau saya test pack hasilnya positif. Terus ditanya kapan terakhir menstruasi tapi saya lupa kapan, kira-kira tanggal sekian gitu, dan saya jelaskan riwayat menstruasi saya yang tidak teratur. Dokter Jo senyum sambil tanya sudah berapa tahun menikah, dan sebelumnya sempet program atau belum. Saya padahal udah siapin mental buat cek USG Transvaginal, eh tapi ternyata dokter cuma USG Abdominal aja alias cek dari permukaan perut. Happy dong saya karena nggak perlu awkward di cek sama dokter cowok. Setelah di cek ternyata saya memang positif hamil, sudah terlihat kantong janin. Ukurannya 5 minggu dan saya disuruh balik 2 minggu lagi untuk lihat ada perkembangan atau nggak di janin saya. Setelah cek saya dikasih obat penguat dan vitamin untuk diminum. Tapi saya lupa nama obatnya apa aja haha.


Photo Credit: Babylist

Cerita Kehamilan: Diet dan Gaya Hidup Sehat


Setelah sebelumnya saya konsultasi dengan dr. Ika, pulang dari rumah sakit otak saya langsung bikin schedule tentang hal-hal apa saja yang harus saya lakukan demi menstruasi yang lancar hahaha. Target saya saat ini bukan program hamil dulu, tapi membereskan hal-hal nggak sehat yang ada dalam tubuh saya. Bagi saya, untuk bisa hamil rasanya masih jauh mengingat dokter sudah memvonis saya dengan PCOS, kalau baca-baca di internet ngeri juga lho PCOS ini. Tapi saya nggak mau patah semangat sih, karena saya yakin semua udah diatur Allah, anak itu ya rejeki-rejeki-an. Kalau memang sudah rejeki, mau sakit apapun ketika Allah menakdirkan kita untuk punya anak, pasti bakal punya kok. Itu afirmasi positif yang selalu saya ingat ketika saya mulai galau karena kata-kata PCOS ini. Saya mulai ubah hal sehari-hari yang saya lakukan dari yang sebelumnya nggak banyak gerak, jadi lebih aktif. Well.. Dari semua anjuran dokter, yang paling berat buat saya tuh olahraga, karena saya paling males yang namanya olahraga hahaha. Sebenarnya bisa sih olahraga pas weekend, tapi buat saya weekend tuh waktunya males-malesan, waktunya bangun siang karena kalau weekdays kan saya harus selalu bangun sebelum subuh buat siap-siap berangkat ke kantor. 

Hal pertama yang saya ubah dari kebiasaan sebelumnya adalah berangkat ke kantor. Saya berangkat ke kantor biasanya naik kendaraan pribadi atau bareng teman yang rumahnya nggak jauh dari tempat saya tinggal. Jadi kami janjian di suatu tempat buat berangkat bersama. Nah biasanya kalau saya lagi bareng teman, Simas selalu antar saya ke tempat janjian itu. Tapi semenjak niat hidup sehat (hahaha) akhirnya saya selalu jalan sendiri ke tempat janjian dengan cara berjalan kaki dahulu lalu naik Transjakarta selanjutnya lanjut berjalan kaki lagi untuk bisa sampai ke tempat bertemu dengan teman saya. Ya intinya saya jadi ambil jalur yang agak ribet dari yang biasanya. Habis kalau nggak begitu, badan saya nggak gerak, di kantor saya lebih sering duduk manis di depan monitor dari pada berjalan kesana kemari. Weekend pun saya sempatkan untuk bangun pagi, jalan pagi ke sekitar komplek lanjut lari-lari santai di taman sambil melihat ibu-ibu senam SKJ disana.

Saya juga mulai membatasi pola makan. Biasanya saya nggak pernah kasih limit ke jam makan, tapi sekarang saya mulai membatasi maksimal makan itu jam 7 malam. Di atas jam 7 cuma boleh makan buah/jus tanpa gula. Kalau mau manis ya tambahkan madu. Makanan yang saya konsumsi juga mulai berubah. Saya nggak pernah makan nasi putih lagi, karbo saya ganti dengan kentang rebus. Untuk persiapan sarapan, malamnya saya potong2 kentang bentuk dadu lalu disimpan di kulkas, paginya saya tinggal rebus kentang tersebut lalu setelah ditiriskan, si kentang saya campurkan 2 sendok EVOO dan oregano lalu dimakan dengan lauknya deh. (lauknya tetap mertua yang bikin sih hehehe). Untuk makan malamnya saya nggak rebus kentang, saya hanya makan lauk saja.
Kadang saya juga menerapkan JSR (Jurus Sehat Rasulullah) untuk kelancaran menstruasi saya. Yang paling sering saya konsumsi resep JSR yang ini: EVOO + Kurma (jumlah ganjil. Saya biasa pakai 3 kurma) + Madu. Saya juga sering bikin chia seed campur madu dan almond milk. Saya rendam semalaman untuk sarapan besok paginya. Enak lho ternyata!

Kebiasaan baru ini sudah berjalan 6 bulan hingga tiba waktunya saya dan Simas pindah rumah. Kami pindah ke lokasi yang nggak terlalu jauh dari kantor saya, tapi rumahnya bukan di dalam komplek, semacam di pinggir jalan jadi agak susah juga untuk mulai rutinitas olahraga weekendnya (hahaha alesan aja), akhirnya bubar jalan deh olahraganya, jadi saya hanya melanjutkan rutinitas makan sehat aja. Tapi karena mulai bosan sama kentang saya ganti ke beras merah organik, karena rasanya masih lebih enak dibandingkan beras merah biasa. Kelanjutan ceritanya ada di post yang terbaru yaa..


Photo Credit: @brookelark

22 July, 2020

Cerita Kehamilan: Intro

Akhirnya saya punya label baru di blog ini. Sebelumnya saya nggak berniat untuk cerita pengalaman pertama kehamilan ini, tapi akhirnya tetap cerita disini sebagai pertimbangan ketika nanti udah jadi full time mom saya mau baca-baca aja pengalaman hamil yang mungkin saya lupa hehehe.

Cerita ini akan saya bagi ke beberapa post, karena akan sangat panjang kalau ditulis dalam 1 post aja.

***

Saya dan Simas pada dasarnya nggak pernah terburu-buru untuk punya anak, kalau dikasih cepat sama Allah alhamdulillah, kalau belum dikasih ya nggak apa-apa. Jadi kami pun nggak pernah secara terencana melakukan program kehamilan (soalnya kita baru pacaran sebentar, jadi mau nikmatin masa-masa berdua dulu hehehe). Memang sih setelah melewati 1 tahun pertama pernikahan kadang suka gemes liat anak bayi, rasanya kayak pengen punya juga, tapi kalo lagi nggak liat anak bayi ya lupa aja gitu. Pernah juga kok ketika lagi kepingin hamil kerjaan saya beli testpack, tapi ya selalu garis satu terus sampe akhirnya saya bosen dan saya nggak pernah beli-beli testpack lagi saking udah tau jumlah garis yang bakal muncul 😂

Lanjut..
Dari awal mulai menstruasi, saya emang nggak pernah teratur tanggalnya. Pokoknya yang penting dalam 1 bulan saya menstruasi deh. Saya juga nggak pernah hitung tanggal menstruasi datang, jadi awalnya saya nggak sadar kalau jadwal menstruasi saya acak-acakan hahaha. Sampai akhirnya 3 tahun lalu saya mulai pakai aplikasi "Flo" untuk track siklus menstruasi. Pernah ada masanya sebelum menikah saya nggak menstruasi 2 bulan, dan itu terjadi 2 kali. Saya nggak panik, karena saya pikir mungkin saya lagi stress dan kecapean saat itu, jadi ya udah nggak pergi ke dokter, hidup berjalan kayak biasa aja. Setelah menikah pun haid saya juga nggak bisa dibilang lancar, selalu mundur minimal 1 minggu, rata-rata mundur 2 minggu, pokoknya siklus saya panjang, kemungkinan lebih dari 35 hari. Pernah iseng hitung tuh 41 hari gitu, tapi lagi-lagi menurut saya itu bukan hal yang mengkhawatirkan. Waktu itu saya masih jarang baca-baca tentang kesehatan reproduksi wanita jadinya masih santai. Tapi, setelah menuju 2 tahun pernikahan saya mulai aware nih, karena lagi-lagi saya mengalami telat menstruasi 2 bulan, saya mulai takut ada apa-apa dengan sistem reproduksi saya, sampai akhirnya saya ceritakan kegelisahan saya ini ke Simas. Akhirnya kata Simas "Yaudah yuk kita ke dokter.". Lalu saya mulai cari-cari info dokter yang bagus di daerah Jakarta Selatan, dan akhirnya ketemu dengan dr. Ika Sri Purnamaningsih, Sp.OG yang praktek di RS Siloam Asri daerah Duren Tiga. Saat ini saya memang masih idealis pengennya kalau cek-cek ke obgyn tuh maunya dokter cewek, soalnya.. Malu nggak sih kalo dokternya cowok terus di cek-cek daerah kewanitaannya, kalaupun cowok maunya yang udah sepuh.. Hahahaha ini preferensi pribadi aja sih.

Akhirnya bulan Juni 2019 saya berkesempatan untuk konsultasi dengan dr. Ika. Setelah daftar sambil tunggu dipanggil masuk ke ruangan saya di tensi dan diukur BBnya. Pasiennya rame, saya dan Simas cukup lama menunggu sih tapi nggak apa-apa, rasa penasaran terhadap kondisi badan saya mengalahkan rasa bete nunggu antrian konsultasi. Setelah masuk ke ruangan, saya ditanya menstruasi terakhir kapan yang zuzur saya lupa, pokoknya udah 2 bulan nggak haid, terus saya juga ceritakan tentang menstruasi saya yang dari awal tidak pernah teratur, dsb. Menurut saya dr. Ika orangnya ramah, banyak ngomong (ngebantu banget sih buat saya yang orangnya suka gugup ngadepin orang baru hahaha), dan tidak lupa cantik pemirsa. Beneran cantik lho dan masih keliatan muda. Lalu dr. Ika bilang "kita USG Transvaginal ya, kalau kayak gini harus cek dalam soalnya." Saya sih nggak kaget karena udah baca-baca kalau mau cek gini-ginian tuh pasti pakai USG Transvaginal, dan menurut saya mungkin rasanya nggak beda jauh kayak pap smear jadi saya santai. Tapi ternyataaa.. Ngilu juga ya, kayak ada alat yang masuk ke dalam situ terus alatnya dibelokkin ke kiri-kanan aduuu ngilu. Lebih ngilu dari pap smear, guys. 

Disitu dokter jelasin kalau rahim saya alhamdulillah bagus, bersih dan nggak ada kista juga. Sel telurnya banyak tapi kecil-kecil banget, ukurannya 12 mm kalau nggak salah. Sedangkan normalnya itu sekitar 20mm agar dapat terjadi pembuahan. Dinding rahim saya juga tipis, ini dia yang menyebabkan kenapa saya belum menstruasi juga. Hmmmm lumayan bikin deg-degan ya hasil USGnya. Setelah selesai, dokter jelasin kalau saya ini kena PCOS (Polycystic Ovarian Syndrome), untuk lebih jelasnya bisa cek di google ya. Menurut dr. Ika jaman dulu PCOS cuma menyerang orang yang kelebihan berat badan/obesitas, tapi sekarang ini orang-orang yang nggak obesitas pun rentan kena PCOS karena gaya hidup yang nggak sehat. Saya nggak disuruh turunin BB tapi saya disuruh mulai gaya hidup sehat, diantaranya:
  1. Hindari junkfood
  2. Hindari goreng-gorengan 
  3. Olahraga 3x seminggu, boleh lari, boleh berenang, yang penting olahraga
  4. Ganti nasi putih dengan karbo lain (boleh kentang/nasi merah/karbo lainnya)
  5. Hindari manis-manis (karena orang yang PCOS kadar insulin di tubuhnya tinggi, jadi manisnya ambil dari yang alami aja seperti madu misalnya
Saya juga diresepin Provera 10 mg sebanyak 10 butir, kata dr. Ika "obat itu diminum selama 10 hari, setelah itu darah menstruasi akan keluar, nah dari sekarang mulai gaya hidup sehat agar nanti menstruasinya teratur. Kalau sudah teratur mulai promil kalender, yaitu berhubungan suami istri 3 hari sekali. Lakukan siklus ini sampai 3 bulan, kalau masih negatif juga baru balik ke saya ya." Oh iya, dokter juga kasih surat rujukan tes sperma untuk Simas di Lab Makmal, lab ini katanya bagus untuk pengecekan sperma. Tapi sebenernya sih laboratorium mana aja juga bisa.

Sejak konsul ke dr. Ika itu saya sadar kalau sepertinya perjalanan saya dan Simas untuk dapet momongan kayaknya nggak akan mudah. Pada suatu hari saya pun akhirnya bicara serius ke Simas tentang worst case seandainya memang kami tidak diberikan rejeki anak, "Mas kalau di pernikahan ini pada akhirnya kita ternyata nggak dikasih kesempatan untuk punya anak karena aku yang bermasalah begini, gimana? Keputusan apa yang akan kita ambil? Kalau aku pribadi, misal yang bermasalah ada di kamu, aku sih nggak papa. Aku nggak masalah kalau emang nggak dikasih rejeki anak. Tapi kalau posisinya kayak sekarang apa keputusan kamu?" Simas bilang, "Ada atau nggak ada anak bukan masalah, kita nikah kan bukan semata-mata buat punya anak. Aku akan baik-baik aja, begitu juga dengan kamu. Udah kamu nggak usah mikir kejauhan, kita jalanin bareng-bareng ya." Hiks.. Terharu banget sama jawaban Simas *peluk erat*

Dan semenjak balik dari konsultasi dengan dr. Ika dan obrolan heart-to-heart itu, saya mulai terapin gaya hidup sehat, belum bisa 100% jalanin sesuai dengan yang disuruh sih, tapi at least saya udah mulai jalanin beberapa poin di atas. 
Cerita detailnya ada di post selanjutnya ya..

18 June, 2020

Nostalgia Persiapan Pernikahan


Kali ini saya mau bahas tentang drama-drama yang terjadi saat persiapan pernikahan saya. Drama yang cukup bikin saya dan Simas lumayan deg-degan, sampe kocak sendiri kalau diinget-inget. Yang lagi nggak ada kerjaan, boleh dibaca lumayan lah untuk menghabiskan waktu kalian haha.

Rias Pengantin
Sanggar Liza
Dari sebelum saya punya pasangan saya udah memperhitungkan beberapa MUA maupun Sanggar Rias untuk pernikahan saya nanti, diantaranya Petty Kaligis, Nanath Nadia, Marlene Hariman, Sanggar Liza, Firma Melati untuk Ibu Tatiek Sasongko (yang kebetulan banget Ibu Tatiek Sasongko ini tuh mertuanya tante saya), Tari Donolobo, Ambar Paes, dan Kusumo Inten. Nah untuk Tari Donolobo dan Kusumo Inten saya belum pernah lihat langsung make upnya, sedangkan untuk yang lain disebutin di atas, sudah saya lihat langsung dan suka sama hasilnya. Saya sampe udah minta Price List vendor-vendor tersebut (kecuali Tari Donolobo dan Kusumo Inten yang entah kenapa ke skip dan akhirnya gak saya pilih juga untuk jadi vendor haha). Setelah kita cek-cek kok ya menurut saya PL personal MUA tuh pricey ya.. Belum nanti untuk sewa beskap dll, waduh bisa over budget kan. Jadi saya putuskan untuk ambil yang paketan aja. Setelah dipertimbangkan panjang kali lebar akhirnya pilihan menyusut jadi Sanggar Liza dan Firma Melati. Untuk Firma Melati saya kekeuh maunya di make up sama tante Tatiek Sasongko karena saya udah kenal sama beliau juga, dan udah pernah lihat hasil makeupnya. Tapi ternyata tante Tatiek untuk tanggal resepsi saya udah keburu ada jadwal, jadi gugur deh. Lalu pilihan selanjutnya adalah Sanggar Liza, memang dari awal entah kenapa saya udah feeling bakal pakai vendor ini sih soalnya di keluarga saya kalau nikah semacam udah langganan gitu pakai jasa Sanggar Liza, profesionalitasnya udah nggak diragukan lagi, dan akhirnya saya pilih vendor tersebut dengan MUAnya Mbak Fitri (mau sama Ibu Liza langsung tapi saya segan.. Malu gitu loh hahaha ga jelas ya).

Waktu itu saya ambil paket Platinum Akad Resepsi B yang provide cukup banyak items mulai dari tata busana, tata rias, dll. Saya pilih paket ini karena ayah saya anak terakhir dari 10 bersaudara. Butuh banyak seragam untuk provide saudara-saudara kandung ayah saya. Dan keluarga kami deket banget satu sama lain, jadi nggak mungkin dong kalau nggak dikasih seragam hahaha. Nah saat pemilihan tanggal resepsi dan jadwal MUAnya nih yang agak drama. Jadi rencana awal saya resepsi itu Sabtu 25 November. Saya memang maunya kalau adain resepsi pernikahan tuh hari Sabtu dan siang hari. Kenapa? Karena kalau hari Minggu tuh waktunya istirahat besoknya orang pada kerja, dan pemilihan acara malam big no banget buat saya soalnya saya sendiri kalau ada undangan untuk acara malam rasanya tuh mager banget hahaha. Tadinya dengan tanggal 25 November sudah confirm dengan Mbak Fitri, eh ladalah kok gedung resepsi availablenya hari Minggu 26 November (cerita lebih lanjut ada di point Gedung Resepsi ya). Pas dapet kabar kalau tanggal resepsi diundur jadi 26 November saya buru-buru konfirmasi ke Mbak Mala, PA saya di Sanggar Liza, untuk cocokin jadwal lagi ke Mbak Fitri, saya juga langsung konfirmasi ke Mbak Yuli, PA Sanggar Liza di bagian tata busana untuk cocokin jadwal baju pengantin, karena baju pengantin saya pakai baju adat yang sudah disiapkan oleh Sanggar Liza bukan bikin kebaya sendiri. Jeng jeng jeng! Mbak Fitri ternyata hanya available untuk jam akad, sedangkan untuk touch up resepsi Mbak Fitri udah full schedule. Huaa sedih seketika. Bingung banget gimana nih? Saya nggak mau muka saya dipegang 2 orang berbeda untuk satu acara. Tapi Mbak Fitri juga nggak memungkinkan.. Lalu Mbak Mala info untuk akad dan resepsi yang available di tanggal itu ada Ibu Liza dan Mba Reny Liza. Entah kenapa saya ngerasa kurang cocok sama make upnya Mbak Reny. Akhirnya saya konsul ke Ibu saya untuk penggantian MUA ini. Ternyata untuk Penggantian dari Mbak Fitri ke Ibu Liza nggak ada tambahan biaya, kecuali dari Mbak Reny atau team ke Ibu Liza baru ada tambahan biaya. Ibu saya mantap suruh saya untuk ambil rias Ibu Liza, akhirnya dengan bismillah saya bilang ke Mbak Mala untuk minta Ibu Liza sebagai MUA saya. Aduh deg-degan banget rasanya ga nyangka bakal di make up sama Ibu Liza, di luar ekspektasi banget, niatnya mau Mbak Fitri, tapi dapetnya malah Ibu Liza. Alhamdulillah saya ngerasa disayang banget sama Allah hahaha.

Pas hari H, Ibu Liza udah standby di lokasi jam setengah 4 pagi. Deg-degan banget pas mau ketemu, dan ternyata alhamdulillah Ibu Liza baik dan ramah banget, malah sampe tukeran nomor hp dan sharing-sharing masalah obat-obatan Jantung segala. Timnya Ibu Liza juga baik-baik banget. Ketika saya lagi touch up untuk resepsi, saya memang belum makan sama sekali dari bangun tidur, cuma minum teh. Terus mbaknya yang pasangin cat kuku ke saya (lupa namanya huhu) nanya, "Mbak Asha udah sarapan belum?" saya jawab belum dan ngga napsu juga (siapa yang masih napsu makan sih kalau lagi riweuh begitu?), Ibu Liza bilang, "Mbak makan dulu nanti pingsan loh, makan sedikit aja yang penting perut keisi. Acaranya kan lama". Alhasil saya makan disuapin sm si mbak, telaten banget pula nyuapinnya kayak lagi nyuapin anak kecil hahaha, makasih ya mbak! Pokoknya make up Ibu Liza dan tim recommended banget, saya puas banget sama pelayanan Sanggar Liza.

Gedung Resepsi
Dari awal penentuan tanggal resepsi sebenarnya saya udah riweuh sendiri. Karena jarak lamaran ke acara resepsi hanya selisih 3 bulan. Orangtua saya dan orangtua Simas kekeuh maunya sebelum tahun baru sudah harus melangsungkan resepsi. Jadi karena Desember kita semua nggak bisa, akhirnya akhir November lah diambil keputusan untuk melangsungkan acara. Nggak seperti banyak pasangan lain yang sudah booking gedung resepsi jauh-jauh hari sebelum acara lamaran dilakukan (bahkan teman saya sudah booking gedung dari 1,5 tahun sebelumnya loh), saya dan Simas memang santai banget masalah pemilihan gedung. Karena kita mikirnya tuh ya kita akan menikah jeda minimal 6 bulan lah dari lamaran, masih bisa cari-cari gedung dulu. Tapi ternyata orangtua berkata lain.. Dan saya juga baru tau ternyata booking gedung pun wajibnya minimal 6 bulan sebelum tanggal yang kita tentukan. Saya pikir booking tempat untuk 3 bulan lagi masih keburu. Duh Asha.. Kemana aja sih kamu..
Pas pemilihan gedung ada sedikit drama juga sebenarnya. Saya dan Simas niatnya mau undang sedikit orang. Agar berasa intimate. Saya juga kan nggak suka keramaian, dan agak kurang nyaman kalau yang datang bukan orang-orang terdekat saya. Tapi ayah saya menolak mentah-mentah dan bilang kalau beliau mau undang 1500 undangan (artinya akan ada 3000 tamu yang datang. Itu juga kalau mereka nggak bawa anak-anaknya). Saya cuma bisa mangap. Sebenarnya nggak heran juga sih, karena kalau dipikir-pikir, keluarga saya sendiri aja udah banyak banget, belum kolega ayah saya, maupun dari keluarga Simas. Ketika adik saya sunatan aja yang datang 1000 orang. Beneran ini nggak pake bohong :') jadi ya sudah saya hanya bisa pasrah. Toh memang sebenarnya resepsi pernikahan (apalagi saya dan Simas anak pertama) adalah acara orang tua. Jadi ya.. Nrimo wae.
Akhirnya perburuan gedung-ready-3-bulan-kedepan pun kami lakukan. Berikut gedung yang masuk ke list saya dan Simas (Simas sebenarnya iya-iya aja sih, dia nggak ribet. Semua yang saya pilih dia setuju-setuju aja, tanpa ada perlawanan berarti -__- mungkin udah keburu pusing ya mikir biaya resepsi hahaha). Gedungnya memang saya pilih yang jaraknya nggak jauh-jauh dari rumah, soalnya males ah kalau jauh.. Ribet di jalan nanti.

a. Gedung ANTAM
Gedung ini yang pertama kali terpikir oleh saya karena dekat rumah. Tapi langsung dicoret blas sama ayah saya soalnya gedungnya kecil. Mungkin cuma untuk 500 undangan (berarti tamu ada 1000 orang).

b. Gedung Departemen Pertanian
Pas kita kontak PICnya, pembicaraannya semacam lagi nonton ketoprak humor "Halo pak, saya Asha, blablabla bisa minta price listnya pak? Untuk bulan November masih available nggak ya?" lalu si Bapak menjawab, "November tahun kapan nih mbak? tahun 2018 aja udah penuh nih." Die. Coret.

c. Menara 165
Disini pake paketan gitu, dan seperti gedung-gedung lainnya kalau nggak pake vendor yang bekerja sama dengan gedung akan kena charge. Masalahnya adalah, chargenya lumayan gede, tapi saya lupa berapa. ayah dan ibu saya udah tertarik banget disini, tapi tiba-tiba ayah nyeletuk "Ah jangan disana deh, parkirannya sempit dan ribet, kasian tamu nanti." Ya Allah. gagal lagi. Coret.

d. Plataran Cilandak
Saya suka sebenarnya resepsi outdoor, tapi saya mikir juga duh nanti gerah, saya kan ga suka keringetan. Tapi saya tetap minta pricelist kesana, tapi sambutan ayah saya adalah "Duh di kebon gini nanti dinyamukin. Kalo acaranya siang kepanasan, kasian tamu. Lagian emang muat 3000 orang?" Kepiye. Kok yo salah terus pilihanku. Coret.

e. Rumah Sarwono
Suka deh sama tempat ini, jawanya kental sekali. Tapi ya ayah saya nggak suka dan lagi-lagi sepertinya nggak muat untuk nampung 3000 orang. Coret.

f. Gedung Dhanapala
Ini sebenarnya bukan pilihan saya karena jauuuuh banget dari rumah. Tapi gedung ini besar, sesuai dengan tamu yang akan datang. Tapi ayah dan ibu saya kurang cocok karena posisinya yang jauh dari rumah. Coret

g. Bandar Djakarta Ancol
Tempat ini sebenarnya bukan pilihan saya dan Simas juga. Tapi pilihan ayah mertua. Jadi pas kita masih bingung mau bikin acara dimana tiba-tiba ayah mertua bilang "mau resepsi di Bandar nggak? Nanti biar papa yang urus kalian terima beres aja." Pertama denger kaget juga, karena saya belum pernah denger ada yang pernah bikin resepsi disana hahaha. Tapi kalau di cek-cek di google sih memang tempat itu bisa yaa dipakai untuk acara pernikahan. Temanya semi outdoor gitu. Tapi Simas nolak, katanya bakal panas banget nikah di pinggir laut, dan pake baju adat jawa, sepertinya nggak matching. Dan juga kejauhan lokasinya dari domisili para tamu (yes, kita memang mikirin tamu banget, jadi apa-apa pertimbangannya untuk tamu). Akhirnya kita coret deh venue yang ini.

h. Gedung Serbaguna I Asrama Haji Pondok Gede
Akhirnya kita bermuara di gedung ini. Yang mengusulkan resepsi disini awalnya adalah om saya, terus inget kalau gedung serbaguna di Asrama Haji ini baru di renovasi 2 tahun lalu, udah bagus banget dan cocok buat jumlah tamu undangan nanti. Akhirnya kita survey kesana. Sesampainya disana saya dan Simas ngerasa cocok banget, ayah dan ibu saya juga suka. Apalagi jaraknya nggak terlalu jauh dari rumah. Dan perlu diingat, dikarenakan ayah saya anak paling bungsu di keluarga, dan cukup di-tua-kan di keluarga besar, maka keluarga ayah dari segala penjuru di Indonesia (lebay amat..) akan datang ke resepsi kami. Mulai dari Aceh, Medan, Riau, Padang, Jambi, Semarang, Jogjakarta, Banjarmasin, pokoknya dari Sabang sampai Merauke bakal dateng semua untuk kumpul, jadi ya memang butuh gedung yang bisa nampung banyak orang. Pas kita udah klik banget, ternyata tanggal 25 November udah ada yang booking dong. Haaaah.. Super bete rasanya, masalahnya yang booking ini udah DP gedung jadi kita nggak bisa apa-apa lagi deh. Akhirnya mau nggak mau kita ganti tanggal ke 26 November. Nggak apa-apa deh, beda sehari doang kok (menghibur diri sendiri..). Nah karena akan banyak banget keluarga yang dateng, jadi ayah saya booking kamar juga di asrama haji, agar semua bisa kumpul tumplek blek disana. Satu malam sebelum hari H, kita semua termasuk keluarga Simas sudah menginap. Jadi nggak akan ada adegan bangun kesiangan atau telat nyampe venue, karena tinggal gedor pintu kamar aja. Wihi~

Catering
Ami Catering Services
Catering ini tuh catering langganan ibu saya. Mau itu acara kumpul sama teman-teman, acara kompleks rumah, acara di sekolah (kebetulan ibu saya anggota yayasan di sekolah adik-adik saya jadi suka adain acara-acara gitu), arisan keluarga, sunatan, selalu pakai catering ini. Ibu saya juga udah klop banget sama Pak Yono, PIC dari Ami Cateringnya, makanya ibu saya udah berikrar mau dimanapun gedungnya pokoknya cateringnya harus Ami Catering Services! Pelanggan setia banget ya kan.. Saya sih manut-manut aja karena jujur saya menyerahkan urusan per-cateringan ini semua ke ibu saya. Saya udah pusing mikirin undangan dan souvenir soalnya hahaha. Tapi memang masakannya tuh enak-enak banget, menurut saya sih nggak kalah enak sama Puspa Catering, atau Diamond. Dan tentunya harganya jauh lebih murah. Padahal porsinya buanyak bangeeeeet. Jujur saya lupa list makanannya apa aja yang saya pesan untuk resepsi, ada 8 gubukan masing-masing untuk 400 porsi, dan buffetnya untuk 1000 porsi. Alhamdulillah hampir semua yang di undang dateng, dan yang bikin bahagia adalah nggak ada yang complain kekurangan makanan. bahkan sampai jam 3 pun (saya resepsi dari jam 11.00 - 15.00 WIB) stock makanan masih banyak, jadi yang datengnya udah mepet-mepet akhir acara tetap pada kedapetan makanan. Sisanya juga masih banyak banget. Pas deh untuk dibagi-bagiin ke keluarga semua. Dan serunya lagi Pak Yono baik banget, untuk keluarga kedua mempelai dikasih jatah makanan, mulai dari nasi goreng, sampai lauk-lauknya. Jadi untuk tamu yang dateng ke rumah karena nggak bisa dateng ke gedung, kita nggak repot-repot pesen catering lagi karena jatah makanan untuk keluarga mempelai membludak banget. Puas banget deh alhamdulillah.

Dekorasi
Dekorasi yang saya pake.... Asli saya nggak tau namanya, huhu maaf Mas. Jadi ceritanya gini, saya blank banget mau pake dekor siapa, akhirnya saya bilang ke Pak Yono (PIC catering), untuk minta tolong carikan vendor dekor dengan budget yang saya kasih. Kenapa saya minta tolongnya ke Pak Yono? Alasannya adalah:
1. Saya udah nggak ada waktu buat browsing-browsing vendor lagi, udah overwhelmed banget mikirin ini itu, belum lagi kerjaan yang nggak bisa ditinggal (hari Minggu saya resepsi, Jumatnya saya masih lembur di kantor gaes.. Hiks)
2. Namanya vendor catering pasti punya banyak rekanan dekor kan, ya saya yakin dan percaya aja sama pilihan Pak Yono. Lalu akhirnya saya dihubungi oleh Mas.. Ya Rabb asli lupa, maaf ya Mas, saya orangnya emang lupaan sama muka dan nama orang 😢, kita panggil aja Mas Fulan. Mas Fulan hubungin saya, kasih beberapa portofolio dekornya, terus akhirnya saya nemu yang klik. Setelah itu kita ketemu 2x untuk survey dan bahas detail dekor, setelah deal selesai deh urusan. Alhamdulillah nggak ada drama.

Fotografi dan Videografi
Untuk foto dan video saya dan Simas percayain ke temen kuliah kita yang emang buka usaha foto-foto dan videographer gitu. Kita udah tau lah kualitas dia karena emang kita akrab sih sama dia, jadi udah tau hasil foto dan video yang dia bikin. Timnya juga asik-asik enak diajak diskusi. Untuk bagian ini beres deh.

Undangan
Desain undangan saya pakai bahan karton tebal dan ditambah mika untuk cover, warna undangannya hitam dan gold doff dengan aksen wayang, disesuaikan dengan baju jawa resepsi saya. Sengaja, biar matching aja gitu haha. Saya cetak undangan di tetangga depan rumah yang alhamdulillah pas banget beliau punya percetakan. Keluarga saya kalau ada apa-apa yang berhubungan dengan cetak-mencetak memang selalu di beliau, selain kualitasnya bagus harganya juga murah. Tapi saya lupa nama percetakannya apa 💆

Souvenir
Jakarta Souvenir dan Alfriandra Souvenir
Saya pesan souvenir di Jakarta Souvenir. Waktu saya nikah itu (tahun 2017) lagi booming banget souvenir yang bentuknya pouch, saya dan Simas suka bentuk-bentuknya, pas cari-cari yang kualitasnya bagus akhirnya ketemu yang oke disini. Saya pesan hanya 800 pcs, karena ayah saya bilang untuk saudara dan kolega ngga cocok kalau dikasih souvenir pouch gitu, terlalu anak muda katanya 😑 jadi beliau mau cari souvenir sendiri. Baiklah, terserah bapak sajah..
Nah karena ayah saya mau souvenirnya beda untuk saudara dan kolega, dan dari awal memang bilang pengennya tuh souvenirnya gelas karena biar kepake, akhirnya kita cari-cari tempat jual souvenir, lalu sepupu saya kasih tau tempat souvenir yang menurut saya bentuknya kayak gudang gitu yaa, buanyak banget jenis souvenir disana, komplit banget deh pokoknya. Lokasinya di deket LP Cipinang namanya Alfriandra Souvenir. Jalan menuju kesana bikin pusing, kecil banget cuma muat 1 mobil, kalau mobil kalian besar agak mepet gitu sama rumah-rumah warga. Ayah dan Ibu saya pilih 3 jenis gelas (iyaaa semuanya gelas, pokoknya ayah saya pecinta gelas souvenir undangan). Gelas ukuran besar berwarna bening (seukuran gelas belimbing), gelas ukuran kecil berwarna bening (cangkir kecil kayak buat bikin kopi), dan satu lagi gelas ukuran cangkir juga tapi warna warni (hijau lime, kuning dan oranye). Saya paling suka sih yang warna-warni itu, lucu warnanya, ngejreng tapi nggak norak. Ayah saya pesannya cukup banyak karena katanya buat stock di rumah juga. Entah pesan berapa pcs, saya nggak tau hehehe.

Kayaknya poin-poin di atas sudah cukup ya tentang tetek-bengek resepsi, saya nggak tau mau bahas poin apa lagi, kurang lebihnya ya begitu deh. Tiap orang punya preferensi beda-beda, nah yang saya ceritakan tersebut persiapan pernikahan versi saya. Semoga untuk kalian semua yang sedang merencanakan pernikahan selalu dimudahkan dan dilancarkan ya segala urusannya, aamiin.

02 January, 2020

A Glimpse of 2019


Padahal di awal tahun 2019 saya sudah ngebatin akan mulai rajin isi blog ini, tapi apa daya kegiatan saya sepanjang tahun cukup padat jadi nggak pernah sempat untuk mampir dan cerita disini. Kalaupun ada kesempatan, saya mengalami writer block. Jadi lah batal terus untuk update.

Ada 2 hal besar di hidup saya yang terjadi di tahun 2019. Hal negatif dan juga hal positif. Mari kita mulai dari hal negatif dulu.

( - )

Beberapa permasalahan di tahun 2018 ternyata masih terbawa ke tahun 2019. Namun di awal tahun ini saya dan Simas berkomitmen untuk meninggalkan semua hal toxic tersebut, move on dengan lembaran baru dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Wish us luck!

( + )

Pindah rumah. Setelah dua tahun kami tinggal bersama dengan mertua akhirnya kami memberanikan diri untuk mandiri. Saya sempet deg-degan bisa nggak ya 100% ngurus Simas tanpa bantuan orang lain (khususnya mertua dan asisten rumah tangga) hahaha. Masak, cuci pakaian, bersihin rumah, dll semua cuma berdua, kira-kira sanggup nggak ya? Karena jujur kami terbiasa hidup "dilayani" dari kecil sampe segede ini hahaha malu-maluin. Tapi kalau nggak dimulai dari sekarang, mau kapan? Jadi kita nekat aja deh. Hitung-hitung learning by doing lah yaa.. Kita pindah ke daerah yang cukup jauh dari lingkungan sebelumnya, benar-benar di tempat baru yang nggak pernah kita singgahi sebelumnya. Untuk saya sih cukup familiar daerahnya karena rumah yang kami tempati tidak terlalu jauh dari tempat saya kerja, tapi untuk Simas, daerah ini benar-benar semacam daerah antah berantah. Kami memang sengaja merencanakan untuk pindah selepas tahun baru, biar vibenya tuh tahun yang baru, lingkungan baru, hidup yang baru, semua mulai dari nol lagi. Harapan kami di tempat yang baru ini semoga segala hal positif terus memenuhi kehidupan kami, dan dijauhkan dari hal-hal negatif. Aamiin. Semoga segala hal positif juga selalu berada di sekeliling kalian ya!


Photo Credit: Unsplash