22 July, 2020

Cerita Kehamilan: Intro

Akhirnya saya punya label baru di blog ini. Sebelumnya saya nggak berniat untuk cerita pengalaman pertama kehamilan ini, tapi akhirnya tetap cerita disini sebagai pertimbangan ketika nanti udah jadi full time mom saya mau baca-baca aja pengalaman hamil yang mungkin saya lupa hehehe.

Cerita ini akan saya bagi ke beberapa post, karena akan sangat panjang kalau ditulis dalam 1 post aja.

***

Saya dan Simas pada dasarnya nggak pernah terburu-buru untuk punya anak, kalau dikasih cepat sama Allah alhamdulillah, kalau belum dikasih ya nggak apa-apa. Jadi kami pun nggak pernah secara terencana melakukan program kehamilan (soalnya kita baru pacaran sebentar, jadi mau nikmatin masa-masa berdua dulu hehehe). Memang sih setelah melewati 1 tahun pertama pernikahan kadang suka gemes liat anak bayi, rasanya kayak pengen punya juga, tapi kalo lagi nggak liat anak bayi ya lupa aja gitu. Pernah juga kok ketika lagi kepingin hamil kerjaan saya beli testpack, tapi ya selalu garis satu terus sampe akhirnya saya bosen dan saya nggak pernah beli-beli testpack lagi saking udah tau jumlah garis yang bakal muncul 😂

Lanjut..
Dari awal mulai menstruasi, saya emang nggak pernah teratur tanggalnya. Pokoknya yang penting dalam 1 bulan saya menstruasi deh. Saya juga nggak pernah hitung tanggal menstruasi datang, jadi awalnya saya nggak sadar kalau jadwal menstruasi saya acak-acakan hahaha. Sampai akhirnya 3 tahun lalu saya mulai pakai aplikasi "Flo" untuk track siklus menstruasi. Pernah ada masanya sebelum menikah saya nggak menstruasi 2 bulan, dan itu terjadi 2 kali. Saya nggak panik, karena saya pikir mungkin saya lagi stress dan kecapean saat itu, jadi ya udah nggak pergi ke dokter, hidup berjalan kayak biasa aja. Setelah menikah pun haid saya juga nggak bisa dibilang lancar, selalu mundur minimal 1 minggu, rata-rata mundur 2 minggu, pokoknya siklus saya panjang, kemungkinan lebih dari 35 hari. Pernah iseng hitung tuh 41 hari gitu, tapi lagi-lagi menurut saya itu bukan hal yang mengkhawatirkan. Waktu itu saya masih jarang baca-baca tentang kesehatan reproduksi wanita jadinya masih santai. Tapi, setelah menuju 2 tahun pernikahan saya mulai aware nih, karena lagi-lagi saya mengalami telat menstruasi 2 bulan, saya mulai takut ada apa-apa dengan sistem reproduksi saya, sampai akhirnya saya ceritakan kegelisahan saya ini ke Simas. Akhirnya kata Simas "Yaudah yuk kita ke dokter.". Lalu saya mulai cari-cari info dokter yang bagus di daerah Jakarta Selatan, dan akhirnya ketemu dengan dr. Ika Sri Purnamaningsih, Sp.OG yang praktek di RS Siloam Asri daerah Duren Tiga. Saat ini saya memang masih idealis pengennya kalau cek-cek ke obgyn tuh maunya dokter cewek, soalnya.. Malu nggak sih kalo dokternya cowok terus di cek-cek daerah kewanitaannya, kalaupun cowok maunya yang udah sepuh.. Hahahaha ini preferensi pribadi aja sih.

Akhirnya bulan Juni 2019 saya berkesempatan untuk konsultasi dengan dr. Ika. Setelah daftar sambil tunggu dipanggil masuk ke ruangan saya di tensi dan diukur BBnya. Pasiennya rame, saya dan Simas cukup lama menunggu sih tapi nggak apa-apa, rasa penasaran terhadap kondisi badan saya mengalahkan rasa bete nunggu antrian konsultasi. Setelah masuk ke ruangan, saya ditanya menstruasi terakhir kapan yang zuzur saya lupa, pokoknya udah 2 bulan nggak haid, terus saya juga ceritakan tentang menstruasi saya yang dari awal tidak pernah teratur, dsb. Menurut saya dr. Ika orangnya ramah, banyak ngomong (ngebantu banget sih buat saya yang orangnya suka gugup ngadepin orang baru hahaha), dan tidak lupa cantik pemirsa. Beneran cantik lho dan masih keliatan muda. Lalu dr. Ika bilang "kita USG Transvaginal ya, kalau kayak gini harus cek dalam soalnya." Saya sih nggak kaget karena udah baca-baca kalau mau cek gini-ginian tuh pasti pakai USG Transvaginal, dan menurut saya mungkin rasanya nggak beda jauh kayak pap smear jadi saya santai. Tapi ternyataaa.. Ngilu juga ya, kayak ada alat yang masuk ke dalam situ terus alatnya dibelokkin ke kiri-kanan aduuu ngilu. Lebih ngilu dari pap smear, guys. 

Disitu dokter jelasin kalau rahim saya alhamdulillah bagus, bersih dan nggak ada kista juga. Sel telurnya banyak tapi kecil-kecil banget, ukurannya 12 mm kalau nggak salah. Sedangkan normalnya itu sekitar 20mm agar dapat terjadi pembuahan. Dinding rahim saya juga tipis, ini dia yang menyebabkan kenapa saya belum menstruasi juga. Hmmmm lumayan bikin deg-degan ya hasil USGnya. Setelah selesai, dokter jelasin kalau saya ini kena PCOS (Polycystic Ovarian Syndrome), untuk lebih jelasnya bisa cek di google ya. Menurut dr. Ika jaman dulu PCOS cuma menyerang orang yang kelebihan berat badan/obesitas, tapi sekarang ini orang-orang yang nggak obesitas pun rentan kena PCOS karena gaya hidup yang nggak sehat. Saya nggak disuruh turunin BB tapi saya disuruh mulai gaya hidup sehat, diantaranya:
  1. Hindari junkfood
  2. Hindari goreng-gorengan 
  3. Olahraga 3x seminggu, boleh lari, boleh berenang, yang penting olahraga
  4. Ganti nasi putih dengan karbo lain (boleh kentang/nasi merah/karbo lainnya)
  5. Hindari manis-manis (karena orang yang PCOS kadar insulin di tubuhnya tinggi, jadi manisnya ambil dari yang alami aja seperti madu misalnya
Saya juga diresepin Provera 10 mg sebanyak 10 butir, kata dr. Ika "obat itu diminum selama 10 hari, setelah itu darah menstruasi akan keluar, nah dari sekarang mulai gaya hidup sehat agar nanti menstruasinya teratur. Kalau sudah teratur mulai promil kalender, yaitu berhubungan suami istri 3 hari sekali. Lakukan siklus ini sampai 3 bulan, kalau masih negatif juga baru balik ke saya ya." Oh iya, dokter juga kasih surat rujukan tes sperma untuk Simas di Lab Makmal, lab ini katanya bagus untuk pengecekan sperma. Tapi sebenernya sih laboratorium mana aja juga bisa.

Sejak konsul ke dr. Ika itu saya sadar kalau sepertinya perjalanan saya dan Simas untuk dapet momongan kayaknya nggak akan mudah. Pada suatu hari saya pun akhirnya bicara serius ke Simas tentang worst case seandainya memang kami tidak diberikan rejeki anak, "Mas kalau di pernikahan ini pada akhirnya kita ternyata nggak dikasih kesempatan untuk punya anak karena aku yang bermasalah begini, gimana? Keputusan apa yang akan kita ambil? Kalau aku pribadi, misal yang bermasalah ada di kamu, aku sih nggak papa. Aku nggak masalah kalau emang nggak dikasih rejeki anak. Tapi kalau posisinya kayak sekarang apa keputusan kamu?" Simas bilang, "Ada atau nggak ada anak bukan masalah, kita nikah kan bukan semata-mata buat punya anak. Aku akan baik-baik aja, begitu juga dengan kamu. Udah kamu nggak usah mikir kejauhan, kita jalanin bareng-bareng ya." Hiks.. Terharu banget sama jawaban Simas *peluk erat*

Dan semenjak balik dari konsultasi dengan dr. Ika dan obrolan heart-to-heart itu, saya mulai terapin gaya hidup sehat, belum bisa 100% jalanin sesuai dengan yang disuruh sih, tapi at least saya udah mulai jalanin beberapa poin di atas. 
Cerita detailnya ada di post selanjutnya ya..

No comments: