Sudah bertahun-tahun saya tidak menuliskan cerita tentang kehidupan saya di blog ini. Namun sekarang, ketika sudah ada waktu (lebih tepatnya, meluangkan waktu) cerita yang ingin saya sampaikan ternyata adalah hal yang tidak pernah disangka akan saya alami di waktu secepat ini.
Ibu saya telah tiada. Bahkan ketika menulis ini, rasanya masih seperti mimpi bahwa Ibu saya sudah meninggalkan dunia ini. Rasanya Ibu saya hanya sedang bepergian dan pasti akan kembali. Tapi, saya harus menelan kenyataan pahit, bahwa Ibu saya tidak akan pernah kembali ke dunia.
Ibu saya adalah wanita yang luar biasa. Sangat menyayangi keluarga, seorang pekerja keras yang tangguh. Begitu banyak memori baik yang tersimpan di hidup saya tentang beliau. Berat sekali rasanya mengingat segala hal tentang Ibu.. Semua rasanya menjadi kosong dan menyakitkan.
Beliau meninggal tepat di hari Jumat, 28 Maret 2025. Di bulan Ramadan, 3 hari menjelang Lebaran dan sedang berpuasa, di umur 55 tahun. Meninggal begitu cepat, tanpa aba-aba, dan itu yang membuat saya merasa belum siap, semua terasa mendadak. Setiap mengingat detik-detik Ibu saya tiada, diri ini rasanya hancur. Dunia saya runtuh.
Saya tidak pernah mau dan tidak pernah berani membayangkan rasanya ditinggal oleh Ibu. Ini adalah hal yang paling saya takutkan terjadi di hidup saya. Namun ternyata Allah berkehendak lain. Allah mau saya merasakan ini. Allah mau saya berhadapan langsung dengan hal yang paling saya takuti, agar saya semakin kuat dan tegar menghadapi kehidupan kedepannya.
Sampai saat ini saya masih berusaha mengikhlaskan takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah, karena saya juga tidak mau Ibu saya sedih melihat anaknya terpuruk. Namun, rasanya.. Proses mengikhlaskan ini butuh waktu yang panjang, entah sampai kapan.
photo credit: @anitaaustvika
