26 October, 2017

16.15


I'm still sitting on my workdesk doing my works while the heavy rain fall outside the windows. I love this weather. It's cold and quiet, and even more, I'm alone here. I feel desolate but I'm happy. I think I'd rather be alone, struggling with works than having chit chat just for the sake of politeness. 

A silver rectangle object near me was blinking and trembling while I sip my coffee, I ignored it. It's not a good day. There are so many things swarming in my mind. Mostly bad. Bad memories that I never deliberately recorded into my mind. I'm trying to hold my anger, all the hatred feelings. Period kills my mood. It's okay, everything will get better soon. But one thing for sure, I find peace in the rain.

28 August, 2017

Ramadan 2.0



It was 4.10 PM I just back from my work. My roommate told me she didn’t do iftar at dorm because her boyfriend asked her to do iftar at his house. Then, I’m alone at my room while waiting for iftar time in the next 2 hours. I decided to go out because I’m not in the mood of being alone at that time, it was so stuffy being at dorm all over the weekdays. I drove my car aimlessly. But then suddenly I imagine how nice and comfort it would be to do iftar at home with my family. So I turn around towards the highway and go home. Back to Jakarta. 

After I arrived at home, my family looked surprised. I didn’t tell them that I’m going back home that day. My sister checked the calendar to ensure whether today is the day I usually get back to home. I laughed. With a surprised look on her face my mom asked me whether I have any problem because it was so odd to find me back home in weekdays. I said no. I just want to do iftar with my family. My mom looked relieved. I spent 3 hours at home and went back to dormitory. 3 hours being surrounded with my loved ones is not enough. But it’s okay. There’s still another weekends, right?

It’s my second year to not perform Ramadan with my family since I live at dormitory. Going through Ramadan without family beside you is quite hard. Especially when you’re never stay too far – and too long – from your family before. Sometimes I feel lonely and hopeless, feels like I want to go back to home and get back together with my family. The most comfortable place in the solar system. But no. It’s not that easy, man. There are lot of things to consider. The distance between my home to my office, the need to get up much earlier (LOL I know this must be the most lame reason I ever had), and some other major reasons. 

This is hard. But I never regret my decision. Living far from my loved ones builds me to be a stronger person, and independent. One thing I need to tell you guys, well it’s cliché but true. Never be afraid to try new things. New things will get you when you’re out of your comfort zone. Be brave.


Photo Credit: @frsphoto

07 June, 2017

Meet the A.

New year, 2017.

"
With new year's fireworks surrounding us, he asked me to have a commitment with him.


It's a bit hard to resist to not talking about this, but it feels not fair if I don't tell you. So I'll just give a glimpse of it. Just the point. So.. After a long time I fought against my fear, someone finally could convince me to start a new journey. Someone I never imagined would be one of the most important person in my life. I never thought and expected that our closeness would be as serious as this. Indeed, from the beginning I had warned him that I wanted a serious relationship (hahaha) but still, it remains as a surprise we could get to this step.

Back to the old days, around 2006-2016ish we used to be just a cameo in our life. But the universe always has a way to unite us in ways we never expected. I never realized it until I thought about how many coincidences (well, I don't believe in coincidence tho, I believe in destiny. But let's just make this words simple.. Haha) that has happened between us. Now, let me enjoy this serendipity. I don't ask for much but I do hope he will be my last and only.

10 May, 2017

Every Cloud Has A Silver Lining.

Ketika saya menulis ini, jam di laptop saya menunjukkan pukul 22:42 WIB. Tadi saya pulang kantor sekitar jam 18:41 kalau tidak salah ingat. Jalanan hari ini cukup lancar mengingat besok adalah tanggal merah, mungkin orang-orang sudah pergi keluar kota semua kali ya. Ketika saya sedang iseng membuka-buka post saya yang sebelumnya, saya ketemu dengan tulisan yang saya post saat saya ulang tahun ke 24 tahun. Aduh rasanya gimana gitu udah umur 24 tahun tapi bahasainnya masih "ulang tahun", rasanya sudah ketuaan hahaha. Selesai saya baca post yang tadi saya sebutkan kok rasanya saya jadi ingin menulis tentang experience dan hikmah yang saya dapat dalam menjalani hubungan ya?


Di umur saya yang ke 25 tahun ini, timeline di segala media sosial yang saya punya hampir setiap minggunya selalu banjir dengan updatean teman-teman yang menikah, lamaran, melahirkan, bahkan ada juga yang merayakan ulangtahun anaknya. Rame banget deh. Emang sih usia-usia saya gini menurut mayoritas orang merupakan umur yang sudah cukup untuk menikah (khususnya di Indonesia ya gaes). Oh iya kok malah jadi ngelantur dikit.. Jadi, saya pernah berada di posisi dimana saya nggak tahu persis apa yang sedang saya jalani, harus saya lakukan, dan bahkan saya pernah mempertanyakan sebenarnya tujuan hidup saya ini apa sih? Kok macem botol air mineral di sungai yang cuma go with the flow, ikutin aliran sungai yang entah saya akan nyangkut dan berujung dimana. Semua yang saya lakukan kok rasanya.. Meaningless. Termasuk kehidupan percintaan saya (dangdut banget bahasanya). 


Memang dari beberapa tahun lalu saya punya major issue dalam aspek kepercayaan. Hal ini rasanya karena saya pernah menaruh harapan yang begitu besar kepada beberapa orang sehingga ketika satu kali saya tahu mereka tidak bisa menjaga kepercayaan dan harapan saya, mulai saat itu juga rasa percaya saya terhadap suatu hubungan luntur. Berlebihan? Mungkin, tapi memang begitu yang saya rasakan ketika itu. Mereka orang-orang yang sangat saya percaya, yang saya pikir tidak akan pernah menyakiti saya, tempat saya bersandar, ternyata punya rahasia sebegitu besar yang bahkan saya sulit mempercayainya ketika rahasia itu terkuak. Karena hal itu saya pun sempat merasakan berada di poin terendah dalam hidup saya. 


Saat saya mengalami kejadian tidak mengenakkan itu, saya sempat beberapa waktu terlena di low point area. Hidup saya berubah drastis rasanya, semua terasa flat banget. Semacam nggak punya semangat hidup. Drama banget nggak? Hahaha. Tapi untungnya saya tuh orangnya susah nangis, jadi ya saya diem aja kalau lagi dangdut (baca: galau hahaha), coba misalkan saya gampang nangis, apa nggak bakal ngalahin telenovela Rosalinda tuh dramanya? 
Untungnya, dan membuat saya merasa bersyukur banget, saya punya keluarga dan teman-teman yang perhatian. Ketika itu teman-teman saya sering mengajak saya short trip kemana-mana. Ya nggak jauh-jauh sih, paling ke bandung doang. Maklum, jaman mahasiswa keuangan kami masih terbatas, jadi nggak bisa jauh-jauh hahaha. Nah mereka sering ajak saya short trip guna membantu saya untuk lupa dengan kedangdutan saya. Padahal posisinya waktu itu saya lagi skripsian tahap akhir, dan dospem (dosen pembimbing) saya lumayan strict juga kalau saya telat kumpulin revisian, tapi saat itu yang saya pikirkan cuma "Ah bodo ah! Yang penting saya happy-happy dulu!". Ujungnya memang happy-happy sih tapi teteup aja meskipun sering PP Jakarta-Bandung-Jakarta, berangkat subuh pulang pagi, pulangnya saya pasti ngerjain revisi dulu baru tidur, tetap nggak tenang juga ternyata kalau nggak ngerjain revisian, takut diomelin dospem hahaha. 


Saya ini tipe yang kalau lagi dangdut malah jadi makin produktif. Percaya nggak percaya, saya pernah hampir 3 hari nggak tidur karena ngerjain skripsian pas lagi dangdut-dangdutnya. Pagi hari saya ke perpustakaan UI untuk cari buku referensi sampai siang, selesai dari sana saya ke kampus untuk cari referensi lagi ke perpustakaan, terus habis maghrib baru deh saya bimbingan dengan dospem saya sampai tengah malam (iya, dospem saya sesibuk itu, beliau kaprodi jurusan, makanya baru punya waktu senggang mulai sehabis maghrib. Dan jangan harap bimbingannya bisa 1 jam ya, PASTI LEBIH DARI 1 JAM). Pulang bimbingan yang notabene hampir tengah malam (malah pernah jam 12 malam saya baru selesai bimbingan), saya langsung lanjut revisian lagi di rumah sampai kepala pusing cenut-cenut lalu ketiduran. Besoknya berulang kembali. Begitu aja sampe capek. Produktif banget kan? Produktif sampe kepala rasanya mau pecah hahaha. Kenapa saya jadi berubah super produktif kalau lagi dangdut? Karena menurut saya, kalau dangdut saya dimanjain, saya akan semakin pity dengan diri sendiri, jadi lebih baik cari distraction agar saya lupa dengan kedangdutan saya, dan caranya ya dengan menjadi produktif. Meskipun kepala saya rasanya mau pecah karena kurang tidur, seenggaknya saya dapat hasil yang cukup setimpal. Setidaknya saya bisa sedikit meringankan beban orang tua saya untuk nggak mengeluarkan biaya lebih lagi untuk semester-semester selanjutnya, karena saya lulus lebih cepat dari yang dijadwalkan. Alhamdulillah.


Selesai dengan tetek bengek skripsi saya pun mulai kumat kembali dangdutnya. Dan kali ini saya bingung gimana cara mengatasinya karena saya kan udah nggak ada kegiatan lagi, tinggal tunggu wisuda, dan masih terlalu malas untuk cari kerja (jangan dicontoh ya). Duh gawat! Jangan sampai ada drama sinetron terjadi nih di diri saya. Tapi ketika saya sedang bingung harus ngapain, ibu saya bilang kalau saya sekeluarga akan melaksanakan umrah sambil menunggu tanggal wisuda saya. Lalu terbersit di pikiran saya, "wah pas banget. Kedangdutan ini harus segera musnah, saya harus semakin memperdalam agama agar dangdut saya hilang."
Memang sih akhirnya ketika selesai skripsi itu saya menjadi jauh lebih sering baca-baca buku Ayah saya. Ayah saya punya banyak buku tentang agama. Saya baca satu-persatu, saya sering nonton ceramah AA Gym di youtube, dengar ceramah di radio, dengar ceramah di masjid saat kuliah subuh atau ketika orang-orang sedang solat Jumat (rumah saya dekat Masjid, dan kalau lagi ada ceramah di Masjid suaranya terdengar sampai kamar saya), pokoknya saya mulai rajin mengerjakan mulai dari yang wajib sampai yang sunah untuk dijalankan. Dari hal-hal yang saya lakukan tadi, jadi ada banyak ilmu yang saya dapat, pikiran saya pun jadi jauh lebih terbuka ketika menghadapi masalah. Dan benar ya kata orang-orang, ketika kita tidak tahu harus mengeluh kepada siapa, ketika kita merasa kita tidak punya siapa-siapa untuk bersandar, maka bersujudlah. Kemampuan manusia itu terbatas. Ketika kita tidak menemukan apa yang kita inginkan pada manusia, maka hendaklah kita memohon kepada Sang Pencipta, memohon untuk diberikan pengampunan dan kekuatan untuk menjalani setiap step yang ada di hidup kita.


Ketika saya melakukan perjalanan spiritual saya di tanah Haram, saya benar-benar total konsentrasi untuk memohon ampun, bersyukur, dan memperbaiki diri. Nggak sempat banyak foto-foto, dan nggak boleh banyak foto-foto juga sama Ayah saya, takut jadi riya katanya. Bener juga sih hahaha tapi kan pengeeeen....
Di tanah Haram saya juga memantapkan diri untuk menggunakan hijab sepulangnya dari sana. Kalau tentang hijab, saya memang sudah memikirkan keputusan itu cukup lama, tapi yah namanya juga masih labil, jadi dulu sok-sok menunggu waktu yang tepat untuk akhirnya berkomitmen menggunakan hijab. Dikarenakan saya sudah memantapkan diri untuk menutup aurat dan mendekatkan diri dengan Sang Pencipta disana, right after I touch Indonesia's land saya berkomitmen kepada diri saya bahwa saya harus menjadi pribadi yang baru, dalam hal positif. Saya harus menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Harus. Setelah drama "taubat" di tanah Haram, sepulang dari sana saya merasa hati saya sangat lega. Tenang. Sepertinya beban saya sudah hilang tertinggal dan terbang bersama dengan doa-doa yang saya panjatkan di depan Kabah. Percayalah, kalian harus merasakan bagaimana rasanya solat dan berdoa persis di depan Kabah. Rasanya seperti meditasi. Sangat menenangkan.
Saya menjadi lebih banyak bersyukur dengan apa yang saya punya, saya jadi lebih menikmati hidup, saya merasakan aura positif dari orang-orang terdekat saya, dan yang terpenting, rasa dangdut itu sudah hilang. Is this what they called move on? Karena sejatinya, move on itu bukanlah melupakan. Namun mengikhlaskan. Menjadi ikhlas dan menerima dengan lapang dada bahwa ada hal-hal yang tidak kita rencanakan terjadi dalam hidup kita. Every cloud has a silver lining. Pasti ada hikmah yang dapat kita ambil dari semua kejadian tidak mengenakkan yang menimpa kita. 


Sudah banyak yang saya rasakan dan pikirkan jauh sebelum saya membuat tulisan ini. Namun dari semuanya, ada satu pembelajaran yang "ngena" banget untuk saya. Bersyukur. Bersyukur atas semua yang terjadi di hidup kita. Selama kita sudah melakukan yang terbaik, percayalah semua yang terjadi juga memang terbaik buat kita, setidaknya saat ini. 


"
I once ever trusted someone too deeply. So deep that I've drowned in it. Years and years I convinced myself that everything will be okay, I gave up. Everything start to seem nonsense to me I can't stand it anymore. This trust issue moved wildy and rooted inside of me. After quite a long time I'm trying to fix myself from this issue. I keep saying to myself that not everyone does the same. There are still some kind-hearted people out there that is very different from this person. And now, God began to answer my prayers.



24 March, 2017

My Childhood Dream

It's so odd that I need to spend more than 5 minutes to write the first paragraph of this post. I don't know what to write, ironically, I don't know what to tell. I have a lot of stories to share but I don't have any idea how to pour it out here. Is it what they called writer's block?
Wait...
Ok. 

I'm going to tell you about the company I work for and I'll label it as an experience. When I was 10 years old I always wondering how is it to be a worker in a multi national company, having foreigner bosses, talking alien language to your coworkers, and handling various kind of problems. This curiousity began to appear since I've watched many hollywood films and so and so, yeah I know I'm such a dreamer at that time (Uhm.. Until now I guess). I was wondering how is it to be a worker who works in a high modern building as well. When I was a child my parents often drives me around Jakarta and I saw many high modern office buildings and I secretly pray that someday I could be one of those people who works inside those.

Long story short, I got a chance to had an internship in one of the fancy building located in district office in South Jakarta. I was so happy not only I could embody my dream to work in a fancy building; but also I had a chance to work in one of a fancy television station (hahaha), though I just did an internship but I got so many knowledges from my seniors. It was one of my amazing experience and such an honour for me to have a chance to work with them.

Years later, in an ordinary sunny day I got a phone call from this company I work for now. A women from the other side of the phone told me to come to do an interview. I've never expected before that I could have a chance to do an interview with this company, so I'm starting to study the night before the interview is held. Another long story short, I interviewed by the CEO of the company, the atmosphere was so tense I could barely breathe hahaha. The CEO is a Japanese man, maybe around 48 years old. He's very friendly but it doesn't make my nervous getting less though hahaha. Shortly, the company hired me (Thank God) and now - 2 years later, I'm still working in this company.

Sometimes I do speak alien language, in this case, I speak Japanese. 75% staffs of this company can speak Japanese. And it's a mandatory for me to speak English since my CEO can't speak Bahasa fluently yet. It's my boss who teach me Japanese regularly once a week, it's always on Friday by the way (he's one of Japanese men who works here). He's very excited to teach me hahaha, he even gave me 3 manual books of how to learn Japanese; Katakana; Hiragana; and Kanji. I can't complain because I do have many advantage here, and the main thing is I can learn Japanese for free and got a native Japanese tutor. Hahahaha.

You can say that my childhood dreams came true. I was living my dream when I want to work in a fancy building, and I'm about living my dream that I work in an multi national company, talking alien things and stuffs, having a job that I wanted - handling various kinds of problems - from internal to external problems - you know, being surrounded by a lot of work and getting busy is very sexy.

I feel blessed. I am totally blessed. And I am very grateful for it.
So, which childhood dreams that already came true for you? 😊

07 March, 2017

Lessons Learned Through 25 Years of Life

Years goes by and somehow I’m getting uninterest about celebrating or feeling happy when it comes to my birthday. For me, 25 is a gate to get into a mature world (and please kindly ignore that it is a milestone number - a quarter of a century oh my God!), I’ve got many lessons learned that once I mentioned a bit on my previous post, well it's actually on my last year birthday post. And here, now, I wanted to make 25 points of what I've learned in my 25 years.

22 February, 2017

A New Year

Sebelumnya mohon maaf karena judul di atas sepertinya nggak terlalu nyambung sama isi post kali ini hahaha. But anyway, selamat tahun baru semua! Yah meskipun agak telat, tapi nggak papa lah ya, yang penting kan ngucapin. Di tahun yang baru ini saya merasakan sesuatu yang berbeda di diri saya, karena belakangan ini saya ngerasa kemampuan berbahasa, berbicara dan menulis saya menurun. Kayak misal saya pengen ngomong “bingung” lalu di otak saya akan ada dua kata yang muncul “bingung dan confused”, lalu yang keluar dari mulut saya pun belibet antara mau ngomong “bingung” sama “confused”. Kayaknya ini terjadi karena sekarang, dua tahun terakhir setiap hari saya berkutat dengan guidelines dan dokumen-dokumen berbahasa asing, kalau di kantor juga sering berbahasa asing, juga karena kurangnya bacaan berbahasa indonesia yang biasa saya baca (terlalu banyak kata "baca" nggak sih di kalimat ini?).