10 May, 2017

Every Cloud Has A Silver Lining.

Ketika saya menulis ini, jam di laptop saya menunjukkan pukul 22:42 WIB. Tadi saya pulang kantor sekitar jam 18:41 kalau tidak salah ingat. Jalanan hari ini cukup lancar mengingat besok adalah tanggal merah, mungkin orang-orang sudah pergi keluar kota semua kali ya. Ketika saya sedang iseng membuka-buka post saya yang sebelumnya, saya ketemu dengan tulisan yang saya post saat saya ulang tahun ke 24 tahun. Aduh rasanya gimana gitu udah umur 24 tahun tapi bahasainnya masih "ulang tahun", rasanya sudah ketuaan hahaha. Selesai saya baca post yang tadi saya sebutkan kok rasanya saya jadi ingin menulis tentang experience dan hikmah yang saya dapat dalam menjalani hubungan ya?


Di umur saya yang ke 25 tahun ini, timeline di segala media sosial yang saya punya hampir setiap minggunya selalu banjir dengan updatean teman-teman yang menikah, lamaran, melahirkan, bahkan ada juga yang merayakan ulangtahun anaknya. Rame banget deh. Emang sih usia-usia saya gini menurut mayoritas orang merupakan umur yang sudah cukup untuk menikah (khususnya di Indonesia ya gaes). Oh iya kok malah jadi ngelantur dikit.. Jadi, saya pernah berada di posisi dimana saya nggak tahu persis apa yang sedang saya jalani, harus saya lakukan, dan bahkan saya pernah mempertanyakan sebenarnya tujuan hidup saya ini apa sih? Kok macem botol air mineral di sungai yang cuma go with the flow, ikutin aliran sungai yang entah saya akan nyangkut dan berujung dimana. Semua yang saya lakukan kok rasanya.. Meaningless. Termasuk kehidupan percintaan saya (dangdut banget bahasanya). 


Memang dari beberapa tahun lalu saya punya major issue dalam aspek kepercayaan. Hal ini rasanya karena saya pernah menaruh harapan yang begitu besar kepada beberapa orang sehingga ketika satu kali saya tahu mereka tidak bisa menjaga kepercayaan dan harapan saya, mulai saat itu juga rasa percaya saya terhadap suatu hubungan luntur. Berlebihan? Mungkin, tapi memang begitu yang saya rasakan ketika itu. Mereka orang-orang yang sangat saya percaya, yang saya pikir tidak akan pernah menyakiti saya, tempat saya bersandar, ternyata punya rahasia sebegitu besar yang bahkan saya sulit mempercayainya ketika rahasia itu terkuak. Karena hal itu saya pun sempat merasakan berada di poin terendah dalam hidup saya. 


Saat saya mengalami kejadian tidak mengenakkan itu, saya sempat beberapa waktu terlena di low point area. Hidup saya berubah drastis rasanya, semua terasa flat banget. Semacam nggak punya semangat hidup. Drama banget nggak? Hahaha. Tapi untungnya saya tuh orangnya susah nangis, jadi ya saya diem aja kalau lagi dangdut (baca: galau hahaha), coba misalkan saya gampang nangis, apa nggak bakal ngalahin telenovela Rosalinda tuh dramanya? 
Untungnya, dan membuat saya merasa bersyukur banget, saya punya keluarga dan teman-teman yang perhatian. Ketika itu teman-teman saya sering mengajak saya short trip kemana-mana. Ya nggak jauh-jauh sih, paling ke bandung doang. Maklum, jaman mahasiswa keuangan kami masih terbatas, jadi nggak bisa jauh-jauh hahaha. Nah mereka sering ajak saya short trip guna membantu saya untuk lupa dengan kedangdutan saya. Padahal posisinya waktu itu saya lagi skripsian tahap akhir, dan dospem (dosen pembimbing) saya lumayan strict juga kalau saya telat kumpulin revisian, tapi saat itu yang saya pikirkan cuma "Ah bodo ah! Yang penting saya happy-happy dulu!". Ujungnya memang happy-happy sih tapi teteup aja meskipun sering PP Jakarta-Bandung-Jakarta, berangkat subuh pulang pagi, pulangnya saya pasti ngerjain revisi dulu baru tidur, tetap nggak tenang juga ternyata kalau nggak ngerjain revisian, takut diomelin dospem hahaha. 


Saya ini tipe yang kalau lagi dangdut malah jadi makin produktif. Percaya nggak percaya, saya pernah hampir 3 hari nggak tidur karena ngerjain skripsian pas lagi dangdut-dangdutnya. Pagi hari saya ke perpustakaan UI untuk cari buku referensi sampai siang, selesai dari sana saya ke kampus untuk cari referensi lagi ke perpustakaan, terus habis maghrib baru deh saya bimbingan dengan dospem saya sampai tengah malam (iya, dospem saya sesibuk itu, beliau kaprodi jurusan, makanya baru punya waktu senggang mulai sehabis maghrib. Dan jangan harap bimbingannya bisa 1 jam ya, PASTI LEBIH DARI 1 JAM). Pulang bimbingan yang notabene hampir tengah malam (malah pernah jam 12 malam saya baru selesai bimbingan), saya langsung lanjut revisian lagi di rumah sampai kepala pusing cenut-cenut lalu ketiduran. Besoknya berulang kembali. Begitu aja sampe capek. Produktif banget kan? Produktif sampe kepala rasanya mau pecah hahaha. Kenapa saya jadi berubah super produktif kalau lagi dangdut? Karena menurut saya, kalau dangdut saya dimanjain, saya akan semakin pity dengan diri sendiri, jadi lebih baik cari distraction agar saya lupa dengan kedangdutan saya, dan caranya ya dengan menjadi produktif. Meskipun kepala saya rasanya mau pecah karena kurang tidur, seenggaknya saya dapat hasil yang cukup setimpal. Setidaknya saya bisa sedikit meringankan beban orang tua saya untuk nggak mengeluarkan biaya lebih lagi untuk semester-semester selanjutnya, karena saya lulus lebih cepat dari yang dijadwalkan. Alhamdulillah.


Selesai dengan tetek bengek skripsi saya pun mulai kumat kembali dangdutnya. Dan kali ini saya bingung gimana cara mengatasinya karena saya kan udah nggak ada kegiatan lagi, tinggal tunggu wisuda, dan masih terlalu malas untuk cari kerja (jangan dicontoh ya). Duh gawat! Jangan sampai ada drama sinetron terjadi nih di diri saya. Tapi ketika saya sedang bingung harus ngapain, ibu saya bilang kalau saya sekeluarga akan melaksanakan umrah sambil menunggu tanggal wisuda saya. Lalu terbersit di pikiran saya, "wah pas banget. Kedangdutan ini harus segera musnah, saya harus semakin memperdalam agama agar dangdut saya hilang."
Memang sih akhirnya ketika selesai skripsi itu saya menjadi jauh lebih sering baca-baca buku Ayah saya. Ayah saya punya banyak buku tentang agama. Saya baca satu-persatu, saya sering nonton ceramah AA Gym di youtube, dengar ceramah di radio, dengar ceramah di masjid saat kuliah subuh atau ketika orang-orang sedang solat Jumat (rumah saya dekat Masjid, dan kalau lagi ada ceramah di Masjid suaranya terdengar sampai kamar saya), pokoknya saya mulai rajin mengerjakan mulai dari yang wajib sampai yang sunah untuk dijalankan. Dari hal-hal yang saya lakukan tadi, jadi ada banyak ilmu yang saya dapat, pikiran saya pun jadi jauh lebih terbuka ketika menghadapi masalah. Dan benar ya kata orang-orang, ketika kita tidak tahu harus mengeluh kepada siapa, ketika kita merasa kita tidak punya siapa-siapa untuk bersandar, maka bersujudlah. Kemampuan manusia itu terbatas. Ketika kita tidak menemukan apa yang kita inginkan pada manusia, maka hendaklah kita memohon kepada Sang Pencipta, memohon untuk diberikan pengampunan dan kekuatan untuk menjalani setiap step yang ada di hidup kita.


Ketika saya melakukan perjalanan spiritual saya di tanah Haram, saya benar-benar total konsentrasi untuk memohon ampun, bersyukur, dan memperbaiki diri. Nggak sempat banyak foto-foto, dan nggak boleh banyak foto-foto juga sama Ayah saya, takut jadi riya katanya. Bener juga sih hahaha tapi kan pengeeeen....
Di tanah Haram saya juga memantapkan diri untuk menggunakan hijab sepulangnya dari sana. Kalau tentang hijab, saya memang sudah memikirkan keputusan itu cukup lama, tapi yah namanya juga masih labil, jadi dulu sok-sok menunggu waktu yang tepat untuk akhirnya berkomitmen menggunakan hijab. Dikarenakan saya sudah memantapkan diri untuk menutup aurat dan mendekatkan diri dengan Sang Pencipta disana, right after I touch Indonesia's land saya berkomitmen kepada diri saya bahwa saya harus menjadi pribadi yang baru, dalam hal positif. Saya harus menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Harus. Setelah drama "taubat" di tanah Haram, sepulang dari sana saya merasa hati saya sangat lega. Tenang. Sepertinya beban saya sudah hilang tertinggal dan terbang bersama dengan doa-doa yang saya panjatkan di depan Kabah. Percayalah, kalian harus merasakan bagaimana rasanya solat dan berdoa persis di depan Kabah. Rasanya seperti meditasi. Sangat menenangkan.
Saya menjadi lebih banyak bersyukur dengan apa yang saya punya, saya jadi lebih menikmati hidup, saya merasakan aura positif dari orang-orang terdekat saya, dan yang terpenting, rasa dangdut itu sudah hilang. Is this what they called move on? Karena sejatinya, move on itu bukanlah melupakan. Namun mengikhlaskan. Menjadi ikhlas dan menerima dengan lapang dada bahwa ada hal-hal yang tidak kita rencanakan terjadi dalam hidup kita. Every cloud has a silver lining. Pasti ada hikmah yang dapat kita ambil dari semua kejadian tidak mengenakkan yang menimpa kita. 


Sudah banyak yang saya rasakan dan pikirkan jauh sebelum saya membuat tulisan ini. Namun dari semuanya, ada satu pembelajaran yang "ngena" banget untuk saya. Bersyukur. Bersyukur atas semua yang terjadi di hidup kita. Selama kita sudah melakukan yang terbaik, percayalah semua yang terjadi juga memang terbaik buat kita, setidaknya saat ini. 


"
I once ever trusted someone too deeply. So deep that I've drowned in it. Years and years I convinced myself that everything will be okay, I gave up. Everything start to seem nonsense to me I can't stand it anymore. This trust issue moved wildy and rooted inside of me. After quite a long time I'm trying to fix myself from this issue. I keep saying to myself that not everyone does the same. There are still some kind-hearted people out there that is very different from this person. And now, God began to answer my prayers.



No comments: