01 January, 2018

What A Difference A Year Can Makes



Genap 1 tahun yang lalu saya resmi menjalin hubungan dengan seseorang yang sekarang telah menjadi suami saya. By the way, kita panggil dia Simas aja ya soalnya dia orang Jawa, kalau dia orang Betawi sih manggilnya ya Siabang aja hahaha maksa......... Simas ini sebenarnya sosok yang nggak terlalu asing sih buat saya, soalnya saya dan dia udah kenal dari tahun 2006, jaman kelas 1 SMA. Tapi dulu saya dan dia perannya cuma sebagai cameo aja di kehidupan masing-masing. Awal perkenalan itu karena dikenalkan oleh teman karib saya, itupun kenalannya bukan yang face to face tapi dari media sosial gitu hahaha. Hubungan kami nggak berjalan kemanapun, soalnya kami beda sekolah, dan kalaupun ketemu ya cuma sekedar casually greeting gitu aja.

Setelah bertahun-tahun selanjutnya saya lupa sama dia, dia pun juga lupa sama saya kayaknya hahaha, kita hidup di kehidupan masing-masing, meskipun masih di bawah langit yang sama, dan di negara yang sama. Hanya Kelurahan dan Kecamatan yang berbeda. 3 tahun kemudian saya lulus sekolah dan melanjutkan kuliah. Terus nggak sengaja saya ketemu dia di……… Nggak tau saya lupa ketemu pertama di kampus sama dia tuh dimana. Kayaknya pas lagi papasan di gedung kampus. Disitu saya agak kaget juga, lalu saya tanya “Loh lo kuliah disini?” dan ternyata dia kuliah di kampus yang sama dengan saya cuma beda jurusan. Dia ambil Hukum, saya ambil Komunikasi. Selanjutnya saya jarang ketemu sama Simas, kalaupun ketemu juga di tempat yang biasa temen-temen kampus pada kumpul. Itupun ketemunya juga selalu ketika saya sedang bersama teman laki-laki saya dulu wehehehe, mereka ternyata satu tempat nongkrong gitu deh. Selebihnya ya saya nggak pernah ketemu Simas, kalau ketemu juga say hi doang, nggak pernah ngobrol panjang. Mungkin karena saat itu saya juga sedang dekat dengan pria lain, begitu juga dengan dia, jadi kita sama-sama nggak fokus sama lawan jenis selain pasangan masing-masing hahaha.

(lagi-lagi) Bertahun-tahun kemudian, ketika saya baru lulus kuliah, saya main ke kampus lagi sama Fatimah, disana pertama kali saya ketemu lagi dengan Simas setelah.. Entah berapa lama nggak ketemu. Karena nggak enak kalau nggak nyapa, akhirnya saya panggil dia, dan karena Fatimah (ternyata) pernah 1 SD sama Simas, jadi sempat basa-basi sebentar, tapi nggak lebih dari 1 menit sih hahaha. Disitu saya sempat agak gimana gitu liat Simas. Rambutnya agak gondrong, terus kayak kuyu gitu, hadeuuuh.. Nein nein nein. Tapi saya cuma ngebatin aja sih, nggak saya ucapin langsung. Mungkin karena saya suka pria yang rapi kali ya, jadi rasanya risih aja gitu liat pria gondrong. Kira-kira pertemuan di kampus itu terjadi di tahun 2014 dan saya nggak pernah ketemu lagi sama Simas. Kami benar-benar seperti cameo kan di kehidupan masing-masing? Datang dan pergi sambil-lalu tanpa ada sedikitpun memori berarti yang bisa dikenang (ciyeeeeeeeeeee).
Simas kembali datang di kehidupan saya pada bulan November 2016. Saya ingat kan? Tentu dong, karena dia datang ketika saya sedang marah-marah di Instagram karena hampir tertipu belanja online shop hahaha. Dia direct message saya di Instagram bertanya ada masalah apa saya dengan si online shop, lalu dia sepik-sepik bilang “wah dilaporin aja tuh bisa masuk tindak pidana” dan bla bla bla lainnya, mentang-mentang anak Hukum dikit-dikit disuruh lapor polisi. Zzz tapi obrolan ternyata malah berlanjut, dia minta ID Line saya terus kita mulai ngobrol di Line. Beberapa kali dia ajak saya pergi tapi karena saya sibuk (hahaha) dan masih belum terlalu interest (gaya banget..) berkali-kali juga saya tolak ajakannya. Lagian saya kembali teringat terakhir kali saya ketemu dia, rambutnya masih gondrong which I really not into it sama stylenya. Tapi setelah beberapa waktu dia akhirnya ganti foto di Line, rambutnya sudah pendek, perlahan saya mulai coba untuk berpikir terbuka, dan membatin “kalau nanti Simas ajak jalan, boleh juga deh daripada bosen di rumah.” Hahaha over confident banget bakal diajak pergi lagi sama Simas. Tapi ternyata bener dong, dia ajak saya pergi lagi, yaudah akhirnya saya ketemu deh sama dia. Literally ketemu berdua, tatap muka, setelah sekian tahun gak ketemu. Kami akhirnya ketemu di salah satu mall di Jakarta Selatan, biasa, Simas ngajak nonton. Saya memutuskan untuk tidak dijemput, lebih baik jalan sendiri-sendiri aja dan bertemu di tempat tujuan. Ini karena saya nggak biasa dijemput-jemput cowok, apalagi di jemput di rumah. Apalagi bukan pasangan. Nein nein. It’s a big no buat saya. Alasan lain, kalau ternyata orang yang mengajak saya pergi ternyata nggak membuat saya nyaman, saya kan bisa langsung cabut nantinya hahahaha. Namun ternyata, perjalanan kehidupan yang saya dan Simas tidak pernah duga sebelumnya, berawal dari sini..
Singkat cerita, setelah dari pergi pertama, akhirnya kami jadi sering pergi berdua.
Puncaknya ketika malam tahun baru 2016, saya dan Simas pulang nonton terus kita lapar. Karena saya pikir malam tahun baru akan banyak tempat makan yang buka sampai lewat tengah malam, jadi saya santai. Tapi ternyata malah banyak tempat makan yang tutup padahal baru jam 11 malam. Akhirnya kita makan di restoran steak yang memang terkenal buka sampai tengah malam. Setelah saya kenyang, steak saya sudah habis, dan bahkan saya sudah tambah minuman 1 gelas lagi, Simas tiba-tiba ngomong dan “memaksa” saya untuk punya komitmen sama dia. Kenapa saya bilang memaksa? Karena memang pemilihan kata dia terkesan maksa sih.. Hahaha. Jujur saya sempat bingung jawabnya. Bukannya saya over confident, tapi saya memang sudah memprediksikan bahwa hal ini bisa saja terjadi cepat atau lambat, dan ketika hal itu terjadi saya masih nggak tau harus jawab apa. Jauh sebelum Simas “maksa” saya, saya sudah selalu berdoa agar dipertemukan dengan orang yang memang sudah menjadi jodoh saya. Saya berdoa, kalau memang saya belum saatnya dipertemukan oleh jodoh saya, tolong jangan berikan saya laki-laki yang hanya akan sambil-lalu di hidup saya, biarkan saya sendiri, memperbaiki diri hingga datang waktu yang tepat untuk bertemu jodoh saya. Sudah lelah rasanya mempunyai hubungan yang kita yakini akan berakhir bahagia, tapi realitanya justru berkebalikan. Sebelum mengiyakan “paksaan” Simas, saya bilang ke Simas saya nggak mau kalau hubungan yang akan dijalani ini hanya untuk main-main. Saya nggak mau buang-buang waktu.  Dan dia mengiyakan ucapan saya. Dia bilang dia serius dengan saya. Yah yang ada di pikiran saya saat itu “yaiyalah biar diterima pasti ngomongnya pasti jalaninnya bakal serius”, huhu pesimis banget ya pikiran saya waktu itu.. Tapi karena memang saya juga interest sama Simas, dan sejauh ini saya lihat dia pribadi yang cukup baik, serta setelah berpikir cukup lama akhirnya saya jawab iya. YAY. Hahaha.
Saya lupa kapan pastinya, yang jelas sekitar awal Februari 2017, kami baru 1 bulan menjalani kisah kasih ini (wakakakak bahasanya) Simas ngomong sama saya kalau dia memang benar-benar serius, mau kenalin saya ke Papanya bulan April nanti karena tunggu Papanya pulang dulu ke Indonesia, Simas juga bilang sebelumnya udah telepon Papanya dan mau ajak saya ketemu dengan Papanya. Yaa saat itu saya sih masih nggak mau kegeeran jadi saya iya-in aja. Meskipun kami memang sudah sempat ada pembicaraan bahwa rencana akan menikah di tahun depan (2018) karena mau nabung dulu hahaha. Akhirnya akhir April saya dikenalin ke Papanya. Ke Mamanya udah sering ketemu juga. Lalu ke Keluarganya. Meskipun begitu saya masih nggak mau kegeeran sama Simas. Karena jaman sekarang mah udah gak jamin deh kalian dikenalin ke keluarga artinya pasangan kalian benar-benar serius. Jadi buat kalian yang udah dikenalin ke keluarga, even keluarga besar, jangan geer dulu ya, baru boleh geer kalau kalian udah dilamar di depan keluarga besar. Camkan itu ya pemirsa. Yang bikin kegeeran sih lebih tepatnya pas saya makan malam sama keluarganya ketika ketemu pertama kali, terus Papanya ketemu sama koleganya, dan ngenalin saya ke koleganya dengan sebutan "Calon Mantu". Saya cuma bisa ngomong Aamiin saat itu. Abis nggak tau mau ngomong apa lagi. Hahaha maluuuu.

Baru akhirnya saya benar-benar percaya diri luar biasa kalau Simas beneran serius dengan saya ketika Simas bilang Papa dan Mamanya mau dateng ke rumah sebelum bulan puasa. Saya sempat berpikir sejenak, Januari jadian, April ketemu keluarganya, terus bulan puasa kan bulan Juni.. Berarti Mei ini udah dateng ke rumah dong?! Kok cepet banget. Alih-alih bahagia saya malah jadi parno sendiri. Kalian pernah ngerasain sesuatu yang terlalu out of your expectations, beyond your expectations terjadi di hidup kalian nggak? Rasanya kayak nggak percaya, too perfect to be true rasanya (hahaha maafin lebay but that's what I feel that moment), saya bahkan sempet bilang ke Simas apa nggak sebaiknya ditunda dulu ketemuannya? Saya rasanya masih belum siap. Hahaha. Tapi ya akhirnya sebelum bulan puasa orang tua Simas datang ke rumah, yang berakhir pada keputusan bahwa akan ada acara lamaran setelah lebaran Idul Fitri nanti. MasyaAllah saya masih setengah percaya sih. Asa mau lamaran loh pemirsa. Asa akhirnya akan menikah. Kira-kira kalimat tersebut yang beberapa waktu terakhir selalu terngiang-ngiang di otak saya saat itu. Norak ya. Maklumin ya.

Bulan Juli pun tiba. Akhirnya hari agak deg-degan sedunia datang juga. Kenapa agak deg-degan? Karena saya mikirnya ini hanya lamaran kok, bukan nikahan, jadi nggak terlalu deg-degan lah. Toh saya juga pasti menjawab iya kan hahaha.
Tapi ternyata saya terlalu jumawa, everything doesn't go as what we planned. At least, my plan. Saya ternyata hari itu bukan hanya akan dilamar, tapi juga dinikahi. MasyaAllah. Speechless gak lo? Sama gue juga. Yang bikin agak betenya itu ternyata Simas tau kalo hari itu acaranya bukan cuma lamaran aja, wong pas ditanya MC, Simas jawab gini kok, "Ya, rencana saya hari ini bukan hanya untuk melamar Asa, tapi juga bermaksud untuk menikahi Asa." Hah? Seketika 1 restoran tempat saya melangsungkan acara, yang notabene isinya keluarga saya dan keluarga Simas bengong (bahkan para pegawai restorannya juga bengong dan kaget hahaha). Saya yang memang sudah tahu lebih awal (dikasih tahunya pas pertengahan acara inti sih.. Tapi tamu semua nggak ada yang tau kecuali, orang tua Simas, orang tua saya, Fatimah, dan Om saya) tetap kaget dong. Kok Simas udah tau tapi nggak infoin ke saya? Padahal pas Subuh sebelum acara saya masih telepon Simas, dan dia nggak ngomong apa-apa. Ketika kami sudah duduk berhadapan, saya pandang terus Simas, biar dia nengok ke arah saya, saya mau minta penjelasan. Tapi Simas tetap menunduk udah kayak nyariin semut tapi nggak ketemu-temu. Ternyata dia bilang dia takut sama saya makanya dia nunduk doang, takut saya ngomel-ngomel katanya hahahaha. Saya seneng-seneng aja sih sebenernya, tapi kan tetep shocked therapy kalo dadakan gini. Tapi saya ambil positifnya. Allah sayang banget sama saya. Allah menjawab doa-doa saya dengan cara yang diluar ekspektasi saya. Praktis saya hanya 6 bulan menjalani hubungan "semu" alias pacaran sama Simas, berlanjut ke pernikahan yang meskipun konsepnya out of the box banget tapi saya tetap bahagia dan bersyukur. Sangat bersyukur, karena akhirnya saya merasakan sendiri quote-quote yang kayak di google, "jodoh gak akan lari kemana-mana. Kalo lari kemana-mana ya namanya bukan jodoh.", atau "Jodoh nggak usah ditungguin, kalo ditungguin berasa lamanya, siapin diri aja nanti juga ada yang dateng." Saya bener-bener ngerasain itu. Saya agak males ceritain detailnya karena akan panjang capek ngetiknya ini aja tangan udah pegel hahaha, intinya Juli 2017 saya menikah. Dan acara resepsi dilakukan 4 bulan setelahnya yaitu pada bulan November 2017 karena orang tua saya dan Simas sepakat kalau kami berdua sudah harus halal saat tahun baru nanti hahaha.

Huaah.. Rasanya lega bisa cerita perjalanan pernikahan saya yang lumayan rare ini, setiap saya flashback ke momen-momen itu saya nggak pernah bisa berhenti merasa takjub dan bersyukur betapa semuanya sangat dimudahkan oleh Allah. Mulai dari awal ketemu sampai akhirnya memutuskan untuk settle down dengan Simas yang berlangsung begitu cepat dan lancar. Bismillahirrahmanirrahim, saya yakin semua yang terjadi merupakan yang terbaik yang Allah kasih untuk saya, Simas, dan orang-orang di sekitar kami. 



" Satu tahun lalu saya nggak pernah menyangka bahwa satu tahun kemudian hidup saya akan berubah sedemikian cepat, in a good way. Saya nggak berharap untuk segera dipertemukan oleh jodoh saya, saya hanya selalu berdoa untuk dipertemukan dengan jodoh saya di waktu yang tepat. Saya ikhlaskan dan pasrahkan semuanya ke Allah SWT karena saya tahu bahwa rencana dan rahasia Allah SWT sangat sempurna. Saya semakin meyakini itu ketika saya mengalaminya sendiri. Alhamdulillah.."


Photo by: rawpixel.com

No comments: