Beberapa waktu
lalu, ketika saya lagi jalan-jalan sendirian di tol JORR menuju Bogor saya sadar
akan sesuatu. Ternyata saya benar-benar seorang introvert. Saya pikir sebelumnya saya adalah seorang ambivert (yah meskipun sampai saat ini belum ada literatur
pasti yang menjelaskan secara spesifik apa itu ambivert). Sejujurnya saya nggak
terlalu nyaman dengan suasana baru, orang-orang baru, dan segala hal yang
bersifat baru pada diri saya.
Sebagian orang berpikir saya anaknya tuh bubbly, ceria, selalu ketawa setiap waktu, nggak pernah (keliatan) sedih, dan hal-hal yang biasa dialami dan dilakukan orang-orang introvert di luar sana. Padahal, orang-orang dekat saya jelas tau kalau saya aslinya ya bukan seperti itu.
Saya nggak suka basa-basi, apalagi dengan orang baru. Saya lebih suka ngomong to the point yang menurut banyak orang terkadang harsh, masih suka pergi sendirian, masih selalu lebih pilih di pojokan ketika berada di tempat yang ramai, masih suka diem aja enggak ikut nimbrung kalo lagi ngumpul dan ngobrol, dan teman saya juga masih segitu-gitu aja sih. Nambah dikit. Paling yaa enggak sampe 10 orang nambahnya. Teman yang saya maksud ya yang suka main sama saya, yang sering ngobrol. Sedangkan yang lain adalah people I just socialize with. Yang kalo ketemu cuma say hallo dan senyum aja. Dulu, orang yang belum mengenal saya hampir selalu menilai saya orang yang jutek, sombong dan beberapa kata sifat negatif lainnya. Yeah some of those reasons saya dinilai begitu mungkin memang karena kesalahan saya. Tapi kalo pada bilang muka saya jutek kalo lagi diam.... Ya emang dari lahir udah begini mau diapain????
Sebagian orang berpikir saya anaknya tuh bubbly, ceria, selalu ketawa setiap waktu, nggak pernah (keliatan) sedih, dan hal-hal yang biasa dialami dan dilakukan orang-orang introvert di luar sana. Padahal, orang-orang dekat saya jelas tau kalau saya aslinya ya bukan seperti itu.
Saya nggak suka basa-basi, apalagi dengan orang baru. Saya lebih suka ngomong to the point yang menurut banyak orang terkadang harsh, masih suka pergi sendirian, masih selalu lebih pilih di pojokan ketika berada di tempat yang ramai, masih suka diem aja enggak ikut nimbrung kalo lagi ngumpul dan ngobrol, dan teman saya juga masih segitu-gitu aja sih. Nambah dikit. Paling yaa enggak sampe 10 orang nambahnya. Teman yang saya maksud ya yang suka main sama saya, yang sering ngobrol. Sedangkan yang lain adalah people I just socialize with. Yang kalo ketemu cuma say hallo dan senyum aja. Dulu, orang yang belum mengenal saya hampir selalu menilai saya orang yang jutek, sombong dan beberapa kata sifat negatif lainnya. Yeah some of those reasons saya dinilai begitu mungkin memang karena kesalahan saya. Tapi kalo pada bilang muka saya jutek kalo lagi diam.... Ya emang dari lahir udah begini mau diapain????
I don’t argue a lot. I save my argue and fight
energy just for those who worth it. Kalau sekiranya orang itu nggak dekat sama saya, hanya sebatas formal-relations buat diri saya, saya gak akan repot-repot
menghabiskan energi saya untuk berdebat dengan mereka. Karena menurut saya hal
itu nggak penting dan cuma buang-buang waktu. Kecuali kalau memang orang-orang
tersebut memiliki nilai pada diri saya, baru deh I’ll do the opposite. Seenggaknya saya masih melakukan hal itu sampai detik ini. Hanya ada yang sedikit berbeda
sekarang, considering my job who run the system and has to know about almost
everything on the company I work in, and whether I want it or not I must argue
with coworkers who don’t run the system properly. Ini udah lain hal. It’s about
professionalism. I can’t say no to that. And somehow, at this particular
reason, I’m enjoying it. Sedikit banyak, suka nggak suka, office life molded me
to be who I am today. Banyak hal yang saya petik dari kehidupan perkantoran saya sekarang. Salah satunya ya sifat introvert saya ini, but I’ll talk more about
how office life changed me di another post ya.
Back to topic. Setelah
lumayan bosan dibilang sombong dan jutek dan whatever they named me, akhirnya saya mulai membiasakan diri untuk lebih “hangat” ketika ketemu orang-orang baru.
Apalagi pekerjaan saya sekarang juga mengharuskan saya untuk bertemu orang-orang
baru (pengulangan kata banget nggak sih). Awalnya mungkin saya merasa nggak
nyaman ngelakuin ini, tapi entah kenapa sekarang kok jadi kayak kebiasaan gitu.
Dan malah ngerasa aneh kalo enggak senyum atau ramah ke orang lain yang baru
dikenal. Jadi intinya, sekarang saya mulai bisa menempatkan diri kapan saya harus
mengeluarkan sisi introvert saya, dan kapan saya harus behave menghargai orang lain
yang khususnya orang baru dengan baik. Dan kalaupun saya dapat dengan mudah
berbaur dengan orang baru, tandanya orang-orang tersebut memang membuat saya nyaman J
No comments:
Post a Comment